Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #16

Wajah yang Dicuri Waktu

Arkana tidak bergerak.

Kilatan logam itu hanya terlihat sesaat. Sangat singkat.

Namun cukup. Cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya retak.

Perempuan di ujung lorong masih berdiri diam. Masih tersenyum. Masih mengenakan wajah yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam potongan kenangan.

Tetapi sekarang Arkana tidak lagi melihat ibunya. Ia melihat sesuatu yang...

sedang berpura-pura menjadi ibunya.

Tang.

Tang.

Tang.

Detak rumah kembali terdengar. Pelan. Teratur. Seolah menunggu reaksinya.

"Ada apa?" Suara Sena terdengar dari belakang.

Arkana tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada leher perempuan itu. Di balik helaian rambut panjang tampak sambungan logam tipis.

Nyaris tak terlihat. Namun ada.

Dan itu cukup.

Perempuan itu bukan manusia. Bukan Larasati. Bukan siapa-siapa.

Hanya tiruan.

"Arkana?" Ratih ikut menoleh. "Apa yang kau lihat?"

Arkana menelan ludah. Lalu berkata pelan. "Itu bukan Ibu."

Sunyi.

Ratih membeku.

Tirta mengangkat kepala cepat. "Apa?"

"Itu bukan Ibu."

Perempuan di ujung lorong masih tersenyum. Senyum yang sama.

Terlalu sempurna.

Terlalu diam.

Seolah dibuat oleh seseorang yang memahami bentuk senyuman, tetapi tidak memahami kehidupan.

Sena menyipitkan mata. Lalu perlahan melangkah maju. Lebih berani dibanding yang lain. Ketika jarak mereka tinggal beberapa meter, boneka Larasati itu tiba-tiba bergerak.

Klik.

Kepalanya berputar sedikit. Gerakan kecil yang terlalu kaku untuk tubuh manusia.

Ratih langsung mundur. "Oh Tuhan..."

Klik.

Klik.

Klik.

Suara roda kecil terdengar dari dalam lehernya.

Lalu boneka perempuan itu kembali memanggil. "Arka..." Kali ini suaranya terdengar berbeda.

Masih suara Larasati. Tetapi ada gema mekanis tipis di belakangnya. Seperti rekaman tua yang diputar berkali-kali.

Arkana merasakan sesuatu menekan dadanya.

Bukan takut.

Bukan marah.

Melainkan kehilangan. Kehilangan yang baru saja terjadi. Seolah ia kehilangan ibunya untuk kedua kalinya.

---

Tirta bergerak lebih dulu. Mungkin karena marah. Mungkin karena muak. Mungkin karena ketakutan.

Lihat selengkapnya