BRAK!
Kegelapan menelan lorong.
Ratih menjerit pendek. Sena refleks meraih senter dari tasnya.
Klik.
Berkas cahaya putih memotong gelap.
Tepat pada saat yang sama, suara logam raksasa kembali bergema dari ujung lorong.
Grrrrkkkk...
Pintu besi itu terus membuka.
Perlahan.
Seolah sesuatu di baliknya telah menunggu sangat lama untuk dilepaskan.
Tak seorang pun berbicara. Mereka hanya berdiri membeku.
Mendengarkan.
Menunggu.
Hingga akhirnya suara itu berhenti.
Sunyi.
Sunyi yang begitu pekat hingga Arkana dapat mendengar detak jantungnya sendiri.
Duk.
Duk.
Duk.
Lorong gelap kini terbuka penuh. Menganga seperti mulut raksasa.
"Mungkin kita sebaiknya kembali," bisik Ratih.
Tak seorang pun menjawab. Karena mereka semua tahu mereka tidak akan kembali. Tidak setelah sejauh ini.
Tidak setelah pesan terakhir boneka Larasati.
Simpanannya masih hidup.
Arkana melangkah lebih dulu. Sena mengumpat pelan. Lalu mengikuti. Tirta menghela napas panjang sebelum berjalan di belakang mereka. Ratih menjadi orang terakhir.
Empat berkas cahaya senter bergerak perlahan memasuki lorong.
Udara di sana berbeda.
Lebih dingin.
Lebih kering.
Dan entah mengapa...
lebih sunyi.
Tidak ada suara pipa. Tidak ada dengung mesin. Tidak ada detak rumah. Seolah bagian ini terputus dari seluruh Rumah Kamboja.
Lorong itu memanjang sekitar tiga puluh meter sebelum berakhir pada sebuah ruangan bundar.
Dan ketika cahaya senter menyapu dindingnya...
mereka berhenti bersamaan.
"Ya Tuhan..." gumam Sena.
Dinding ruangan dipenuhi lemari arsip.
Ratusan.
Mungkin ribuan laci logam tersusun dari lantai hingga langit-langit.
Nomor-nomor kecil terukir pada setiap pegangan.
Dan terus berlanjut.
Tak terlihat ujungnya.
Arkana mendekati salah satu laci. Debu tebal menempel di sana. Ia menarik pegangan perlahan.
Kreeek.
Laci terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu kecil. Tidak lebih besar dari buku catatan.
Arkana membukanya. Ratih menahan napas.
Di dalam kotak itu terdapat:
jam tangan tua.
Sepasang kacamata retak.
Sebuah pena.
Dan foto seorang pria yang tidak mereka kenal.
"Itu saja?" tanya Sena.
Arkana mengangkat secarik kartu yang terletak di dasar kotak.
Tulisan tangan Baskara memenuhi permukaannya.