"Arka..." Suara itu kembali terdengar.
Sangat pelan.
Seperti seseorang yang berbicara dari balik dinding tebal.
Arkana membeku. Seluruh tubuhnya menegang.
Sena langsung mengangkat senter ke arah celah rahasia yang baru terbuka.
Tidak ada apa-apa.
Hanya kegelapan.
Namun suara itu jelas terdengar. Bukan rekaman. Bukan gema mesin. Bukan suara sintetis seperti boneka Larasati.
Suara itu hidup.
Dan itulah yang membuatnya lebih menakutkan.
"Arka..."
Ratih terisak. Tangan perempuan itu gemetar. "Itu suara Kak Larasati..."
Tirta menggeleng keras. "Tidak."
"Iya betul..."
"Tidak."
Tirta tampak benar-benar ketakutan. Bukan karena rumah. Bukan karena rahasia.
Melainkan karena harapan.
Harapan bahwa Larasati mungkin masih ada.
Karena jika harapan itu salah, maka kehilangan yang mereka kubur selama dua puluh tahun akan kembali menghancurkan mereka.
---
Lorong rahasia di balik lemari arsip jauh lebih sempit.
Mereka berjalan beriringan. Arkana di depan. Sena di belakangnya. Disusul Tirta dan Ratih.
Dindingnya terbuat dari baja tua. Penuh kabel. Pipa-pipa kecil membentang di langit-langit seperti akar pohon logam.
Beberapa masih berdenyut. Seolah cairan tertentu masih mengalir di dalamnya.
Rumah ini hidup.
Pikiran itu kembali muncul di kepala Arkana. Dan kali ini terasa semakin masuk akal.
Mereka berjalan hampir lima menit sebelum lorong berakhir. Di ujungnya terdapat sebuah ruangan kecil berbentuk segi enam.
Ruangan itu kosong. Nyaris kosong.
Hanya ada satu meja logam. Satu kursi. Dan sebuah proyektor tua.
"Ini saja?" gumam Sena.
Arkana mendekati meja. Di atasnya terdapat tumpukan map.
Puluhan. Mungkin ratusan.
Semuanya diberi label.
Nama.
Tanggal.
Nomor.
Arkana mengambil salah satunya. Tangannya langsung berhenti. Karena ia mengenali nama itu.
LARASATI DEWANTARA.
”Ada lagi?” Sena mengernyit.
Mereka menemukan lagi dokumen Larasati lainnya. Apakah isinya kali ini?
Arkana membuka map tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat laporan.
Foto. Sketsa. Catatan observasi.
Dan seluruh halaman dipenuhi tulisan tangan Baskara.
Subjek menunjukkan kemampuan empati tinggi.
Subjek mempertahankan respons emosional meski berada dalam tekanan.
Subjek menolak tahap integrasi.
Arkana membaca ulang.
Lalu membaca halaman berikutnya.
Subjek kembali menolak.
Subjek menyebut proyek ini tidak manusiawi.