Tidak seorang pun berbicara.
Cahaya proyektor masih menyinari dinding kosong. Rekaman Baskara telah menghilang.
Namun kalimat terakhirnya masih tertinggal di ruangan itu seperti asap.
Pewaris yang salah akhirnya telah datang.
Arkana menatap layar kosong. Lalu ke tumpukan arsip. Lalu ke foto-foto Larasati. Lalu ke dokumen Sena yang masih berserakan di lantai.
Rahasia demi rahasia terus muncul. Dan semuanya terasa saling berhubungan. Namun belum cukup dekat untuk dipahami.
Rumah Kamboja seperti teka-teki raksasa yang sengaja dipecah menjadi ribuan keping.
Dan Baskara tampaknya menikmati melihat mereka menyusunnya kembali.
---
Sena berjongkok. Tangannya gemetar ketika memunguti lembaran-lembaran dokumen. Tak ada yang membantunya.
Bukan karena tidak peduli. Melainkan karena mereka tidak tahu harus berkata apa. Ada luka yang terlalu pribadi untuk disentuh orang lain.
Tirta melangkah mendekat. "Sen..."
Sena tidak menoleh. "Jangan."
"Tolong dengarkan dulu."
"Aku bilang jangan." Suara Sena terdengar datar.
Justru itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.
"Aku tidak pernah tahu keberadaanmu."
Sena tertawa pendek. Tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Tentu saja."
"Sen..."
"Aku bahkan tidak tahu siapa ayahku."
Ruangan kembali sunyi.
Sena berdiri. Matanya merah. Namun tidak ada air mata. "Aku menghabiskan hidupku mencari seseorang yang ternyata tahu aku ada."
Tirta seperti kehilangan kata-kata. Ia termangu, pria itu tampak benar-benar tua.
---
"Ini bukan waktunya." Ratih akhirnya angkat bicara. Suaranya pelan.
Lelah.
"Kita bisa membahas ini nanti."
Sena menggeleng. "Kalau masih ada nanti."
Tak ada yang membantah. Karena rumah itu sudah beberapa kali menunjukkan bahwa ia tidak suka menyisakan waktu bagi penghuninya.
---
Arkana kembali membuka map Larasati. Ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang terlewat.
Ia membalik halaman demi halaman.
Laporan.
Catatan.
Diagram.
Sketsa.
Semuanya ditulis oleh Baskara.
Lalu ia menemukannya. Sebuah halaman yang terlipat. Tersembunyi di antara dua lembar laporan. Arkana membuka lipatan itu perlahan. Dan langsung mengernyit.
Karena halaman tersebut bukan tulisan Baskara.
Tulisan tangan itu berbeda.
Lebih lembut.
Lebih mengalir.
Lebih hidup.
Ratih yang pertama mengenalinya. "Itu tulisan Kak Larasati."
Semua mendekat.
Di bagian atas halaman tertulis:
JIKA KAU MENEMUKAN INI, BERARTI AKU GAGAL.
Arkana merasakan tenggorokannya mengering.
Ia membaca lebih cepat.
----
Ayah percaya kenangan bisa disimpan.
Bahwa manusia dapat dipertahankan jika cukup banyak bagian dirinya direkam.
Bahwa kehilangan hanyalah masalah teknologi.
Aku pernah mempercayainya.
Lalu aku melihat apa yang sebenarnya terjadi.