Pintu bertuliskan PUSAT PENYIMPANAN MEMORI masih terbuka.
Cahaya putih kebiruan mengalir dari dalamnya.
Dingin.
Sunyi.
Tidak alami.
Seolah cahaya itu berasal dari tempat yang tidak seharusnya ada di bawah sebuah rumah tua.
Namun tak seorang pun bergerak mendekatinya. Mereka masih berdiri di tengah ruangan arsip. Masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Ratusan laci perlahan menutup kembali.
Klik.
Klik.
Klik.
Satu demi satu.
Seperti kelopak mata yang akhirnya terpejam.
Suara-suara pun menghilang.
Menyisakan kesunyian yang terasa jauh lebih mengerikan.
---
Ratih duduk di lantai. Tubuhnya bersandar pada lemari arsip. Wajahnya pucat. Matanya tidak lagi menatap pintu. Tidak juga menatap yang lain.
Ia sedang melihat masa lalu.
Arkana mengenali tatapan itu. Tatapan seseorang yang baru saja kehilangan kemampuan untuk terus berbohong.
"Bibi Ratih..."
Ratih menggeleng pelan. "Jangan."
Tak ada yang bicara.
"Aku tahu kalian ingin tahu apa yang terjadi pada Kak Larasati." Akhirnya Ratih berbisik pelan.
Sena menoleh. Tirta memejamkan mata. Arkana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Karena selama ini setiap kali nama Larasati muncul, seseorang selalu berhenti sebelum mencapai bagian terpenting.
Namun kali ini berbeda. Ratih tampak lelah. Sangat lelah. Seolah beban yang dipikulnya selama dua puluh tahun akhirnya terlalu berat untuk dibawa sendiri.
"Aku ada di sana malam itu."
Sunyi.
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air.
Tidak keras.
Namun gelombangnya menyebar ke mana-mana.
"Apa?" bisik Arkana.
Ratih mengangguk. "Aku sebenarnya ada di rumah ini saat Kak Larasati menghilang."
----
Hujan mulai terdengar di kejauhan. Atau mungkin hanya suara pipa tua. Sulit membedakannya.
"Kami bertengkar." Ratih tersenyum pahit. "Kami selalu bertengkar."
Sesuatu berubah, Ratih tidak lagi terdengar seperti perempuan yang marah. Ia terdengar seperti adik yang merindukan kakaknya.
"Kak Larasati selalu melawan Ayah."
"Tentang eksperimen?" tanya Sena.
Ratih mengangguk. "Tentang semuanya."
Ia menarik napas panjang. "Awalnya Ayah hanya ingin menyimpan kenangan."
Arkana langsung teringat boneka Larasati.