"Arka..." Suara itu lenyap.
Namun tak seorang pun bergerak. Mereka hanya berdiri menatap pintu bercahaya di ujung ruangan. Seolah takut jika berkedip, suara itu akan hilang selamanya.
Atau lebih buruk.
Takut jika mereka menemukan bahwa suara itu memang nyata.
---
Yang pertama bergerak justru Tirta. Pria itu melangkah mendekati pintu. Wajahnya tegang. Matanya merah.
"Aku ingin tahu."
Ratih mengangkat kepala. "Tahu apa?"
"Apa yang sebenarnya dibuat Ayah." Tak ada kemarahan dalam suara Tirta kali ini.
Hanya kelelahan.
Kelelahan seseorang yang selama puluhan tahun berusaha membela orang yang salah.
----
Mereka melewati ambang pintu bersama-sama. Dan segera menyadari bahwa ruangan di baliknya jauh lebih besar daripada yang seharusnya.
Jauh lebih besar.
Arkana bahkan tidak dapat melihat ujungnya.
Langit-langit melengkung tinggi seperti kubah katedral. Pipa-pipa tembaga menjulur ke segala arah. Kabel hitam sebesar lengan manusia merambat di dinding.
Dan di tengah ruangan...
berdiri sesuatu yang membuat mereka berhenti bernapas.
Sebuah menara logam.
Tinggi.
Menjulang.
Berdenyut perlahan.
Tang.
Tang.
Tang.
Suara yang selama ini mereka dengar ternyata berasal dari sana.
Dari jantung Rumah Kamboja.
---
"Ya Tuhan..." Sena memutar tubuhnya perlahan.
Ratusan silinder kaca mengelilingi menara itu. Tersusun dalam lingkaran-lingkaran besar. Masing-masing berisi cairan bening.
Sebagian kosong.
Sebagian tidak.
Arkana mendekat ke salah satunya. Dan tubuhnya langsung membeku. Karena di dalam silinder itu terdapat topeng wajah.
Wajah manusia.
Begitu realistis hingga tampak hidup.
Mata tertutup.
Bibir terkatup.
Seolah sedang tidur.
Ratih mundur selangkah. "Tidak..."
Silinder berikutnya.
Wajah lain.
Silinder berikutnya.
Wajah lain lagi.
Puluhan.
Ratusan.
Mereka mengelilingi ruangan seperti penghuni sebuah makam yang tidak pernah mati.
---
Di kaki menara terdapat meja kontrol tua. Penuh tombol kuningan. Tuas. Jarum penunjuk.
Dan tumpukan jurnal.
Banyak sekali jurnal.
Arkana mengambil salah satunya. Sampulnya sudah kusam. Namun tulisan di depannya masih terbaca jelas.
CATATAN PENELITIAN
BASKARA DEWANTARA
VOLUME 34
Sena mengangkat alis. "Volume tiga puluh empat?"
"Itu berarti ada tiga puluh tiga sebelumnya," gumam Tirta.
Arkana membuka halaman pertama. Dan langsung menyesalinya. Karena kalimat pertama membuat bulu kuduknya berdiri.