Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #22

Gideon

Tidak seorang pun bergerak. Ruangan terasa membeku. Bahkan detak jantung Rumah Kamboja seakan berhenti sesaat.

Sosok di dalam menara logam itu tetap diam.

Mata terpejam. Kepala sedikit menunduk.

Puluhan kabel tipis menempel di tengkuk, pelipis, dan kedua lengannya.

Seperti akar pohon yang tumbuh dari tubuh manusia.

Atau sebaliknya.

Seperti tubuh manusia yang sedang ditelan akar.

"Ayah..." Suara Ratih nyaris tak terdengar.

Langkahnya goyah. Ia mendekat.

Pelan.

Sangat pelan.

Seolah takut jika sosok itu tiba-tiba membuka mata.

Atau lebih buruk.

Takut jika sosok itu tidak pernah bisa membuka mata lagi.

---

Tirta bergerak lebih cepat. Pria itu sudah berada di depan menara sebelum siapa pun sempat menghentikannya. Tangannya menyentuh kaca pelindung.

Dingin.

Sangat dingin.

"Buka."

Tak ada yang terjadi.

"Buka!"

Ia memukul panel logam di sampingnya.

BRAK!

Menara tetap diam. Baskara tetap tidak bergerak. Ratih mulai menangis.

Sementara Sena berdiri terpaku. "Dia hidup?" bisiknya.

Tak seorang pun bisa menjawab. Karena dari tempat mereka berdiri, Baskara tampak hidup.

Namun juga tidak.

Dadanya tidak bergerak. Tidak bernapas. Tidak menunjukkan tanda kehidupan.

Tetapi wajahnya tidak tampak seperti mayat. Tidak membusuk. Tidak kaku.

Seolah waktu berhenti tepat di tubuhnya.

---

Arkana memperhatikan panel kontrol di dekat menara.

Lampu-lampunya masih menyala. Jarum-jarum masih bergerak. Angka-angka masih berubah.

Artinya sistem ini masih bekerja.

Masih aktif.

Masih menjalankan sesuatu.

Lalu matanya menangkap tulisan kecil di salah satu layar kuningan.

STATUS INTI:

TERHUBUNG

SUBJEK UTAMA:

BASKARA DEWANTARA

KESADARAN:

AKTIF

Arkana membeku.

Kesadaran aktif. Bukan tubuh aktif. Bukan fungsi vital aktif.

Kesadaran aktif.

Ia belum sempat mencerna maknanya ketika suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari belakang.

Tak cepat.

Tak tergesa.

Namun cukup untuk membuat semua orang berbalik.

Tok.

Tok.

Tok.

Dari lorong yang mereka lewati tadi...

muncul seorang pria tua.

Sendirian.

Membawa lampu minyak.

Lihat selengkapnya