Tak seorang pun berbicara.
Mereka masih berdiri mengelilingi menara logam tempat tubuh Baskara terbaring.
Lampu-lampu redup berdenyut pelan. Pipa-pipa tua mengembuskan uap panas. Dan jauh di bawah lantai, detak Rumah Kamboja terus terdengar.
Tang.
Tang.
Tang.
Seperti jantung yang tidak pernah lelah berdetak.
---
Ratih adalah orang pertama yang memecah kesunyian. "Ayah masih hidup?" Suaranya bergetar.
Gideon tidak langsung menjawab. Ia menatap tubuh Baskara yang terhubung dengan puluhan kabel. Tatapan seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan rahasia.
"Ya."
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat dunia Ratih runtuh.
---
Tirta memejamkan mata. Rahangnya mengeras. "Jadi selama ini kau berbohong pada kami."
Gideon menggeleng pelan. "Tidak."
"Lalu apa namanya?"
"Menjaga janji."
---
Tirta tertawa pendek. Pahit. "Janji?"
"Janji kepada siapa?"
"Kepada Larasati."
Sunyi.
Nama itu membuat semua orang kembali diam.
---
Arkana menoleh cepat. "Ibu?"
Gideon mengangguk. "Larasati memintaku merahasiakan semuanya."
"Kenapa?"
Pria tua itu menghela napas panjang. Karena jawaban pertanyaan itu adalah awal dari semua tragedi.
---
"Dua puluh tahun lalu..." Suara Gideon terdengar jauh.
Seolah ia sedang membuka pintu yang selama ini terkunci rapat.
"...Rumah Kamboja belum seperti sekarang."
Tang.
Tang.
Tang.
"Dulu hanya sebuah rumah besar."
"Bengkel kecil."
"Laboratorium."
"Bukan labirin."
"Bukan penjara."
"Bukan tempat seperti ini."
---
Ratih menatap sekeliling.
Sulit membayangkan rumah raksasa itu pernah sederhana.
---
"Baskara membangunnya bersama istrinya." lanjut Gideon. "Bukan sendirian."
"Marni. Ibuku?" bisik Ratih.
Gideon mengangguk. Wajahnya sedikit melunak. "Aku belum pernah melihat dua orang yang saling mencintai seperti mereka."