Lorong itu lebih sempit daripada yang mereka bayangkan. Seolah tidak dibuat untuk dilewati manusia. Hanya cukup untuk satu orang berjalan.
Satu di belakang yang lain.
Tanpa ruang untuk berbalik.
Tanpa ruang untuk ragu.
---
Arkana berjalan paling depan.
Di belakangnya Sena.
Lalu Ratih.
Tirta.
Dan Gideon paling belakang.
Tak seorang pun berbicara. Setelah cerita Gideon, rasanya kata-kata tidak lagi cukup.
Tang.
Tang.
Tang.
Detak rumah terdengar semakin jelas. Bukan lagi seperti suara dari kejauhan. Melainkan dari balik dinding. Dari bawah kaki mereka. Dari dalam tubuh lorong itu sendiri.
---
Sena menyinari dinding dengan senternya. Pipa-pipa tua menjalar di sepanjang lorong. Kabel-kabel berlapis debu menggantung dari langit-langit. Beberapa bergerak perlahan.
Seolah bernapas.
"Aku tidak suka tempat ini." gumamnya.
"Tidak ada yang suka." jawab Tirta.
Mereka terus berjalan. Menuruni tangga logam.
Satu tingkat.
Dua tingkat.
Tiga tingkat.
Semakin dalam.
Semakin jauh dari dunia luar.
---
Udara berubah. Menjadi lebih hangat.
Lebih lembap.
Dan entah kenapa...
lebih hidup.
Arkana tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Namun ada perasaan aneh yang terus mengganggunya. Seolah rumah sedang memperhatikan mereka.
Tang.
Tang.
Tang.
Ratih tiba-tiba berhenti.
"Kenapa?" tanya Sena.
Perempuan itu mengangkat senternya. Menyinari dinding sebelah kanan.
Semua ikut menoleh. Lalu membeku.
Di sana terdapat ratusan foto.
Bukan dipajang.
Bukan digantung.
Melainkan ditempel sembarangan. Bertumpuk. Berlapis. Memenuhi seluruh dinding.
Foto anak-anak.
Foto keluarga.
Foto pesta ulang tahun.
Foto pernikahan.
Foto sekolah.
Foto orang-orang yang tersenyum.
Debu menutupi sebagian besar gambar. Namun wajah-wajah itu masih terlihat.
"Siapa mereka?" bisik Ratih.
Gideon tampak muram. "Semua orang yang pernah datang ke Rumah Kamboja." jawabnya.
Sunyi.
"Ayah menyimpan foto mereka?" tanya Tirta.
"Bukan hanya foto." kata Gideon.
Tak seorang pun menyukai nada suaranya.