Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #25

Mesin Kenangan

SELAMAT DATANG KEMBALI

ARKANA

 

Tulisan hijau itu berkedip pelan di layar tua.

Lalu padam.

Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berbicara.

Tang.

Tang.

Tang.

Detak Jantung Rumah semakin keras. Kini bukan hanya terdengar. Mereka bisa merasakannya. Getarannya menjalar melalui lantai baja. Melalui pagar.

Melalui tulang mereka.

"Aku tidak suka ini." gumam Sena.

Sena yang biasanya tenang, sekarang terdengar benar-benar gugup.

Arkana menatap layar yang telah gelap. "Kenapa namaku?"

Tak ada yang bisa menjawab.

Bahkan Gideon.

Pria tua itu menatap mesin raksasa di dasar kubah. Wajahnya semakin muram.

"Karena rumah mengenalmu." katanya pelan.

Ratih menggeleng. "Itu tidak masuk akal."

"Rumah ini dibangun dari arsip." jawab Gideon. "Selama puluhan tahun ia mengumpulkan suara, tulisan, foto, dan kenangan."

"Kenangan tidak bisa mengenali orang." kata Sena.

Gideon tidak menjawab. Karena sebenarnya ia sendiri tidak yakin lagi.

Tang.

Tang.

Tang.

Tiba-tiba seluruh ruang kubah meredup.

Lampu-lampu di dinding mati satu per satu.

Klik.

Klik.

Klik.

Gelap merambat seperti air.

"Eh..." Sena mengangkat senternya. Namun bahkan cahaya senter terlihat lebih redup.

Lalu suara terdengar. Bukan dari pengeras suara. Bukan dari mesin.

Dari segala arah.

Seorang anak kecil tertawa.

Ratih membeku. Karena ia mengenali suara itu. "Tirta?" bisiknya.

Tirta ikut membeku.

Suara tawa itu muncul lagi.

Lebih dekat.

Tawa seorang anak laki-laki. Usia sekitar delapan tahun.

Ratih menoleh perlahan. Di ujung ruangan...

berdiri seorang anak kecil.

Mengenakan kaus biru. Celana pendek. Dan membawa pesawat mainan dari kayu.

Wajahnya sangat familiar. Karena itu Tirta.

Tirta kecil.

"Apa..." Suara Tirta tercekat.

Anak itu berlari melintasi ruang kubah.

Tertawa.

Lihat selengkapnya