Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #27

Pilihan Larasati

Lagu itu mengalun pelan dari balik pintu.

Nyaris seperti bisikan.

Nyaris seperti angin.

Namun Arkana mengenalinya. Ia mengenal setiap nadanya. Karena ketika masih kecil, lagu itulah yang sering mengantarkannya tidur.

Arkana membeku. "Ibu..." Tak sadar ia melangkah maju.

Pintu baja itu kini terbuka sepenuhnya. Memperlihatkan lorong panjang yang menurun ke bawah.

Lebih sempit.

Lebih tua.

Lebih gelap.

Namun lagu itu terus terdengar.

Pelan.

Jauh.

Menunggu.

"Arkana." Ratih memegang bahunya. "Jangan sendirian."

Arkana mengangguk. Lalu mereka masuk bersama.

Tang.

Tang.

Tang.

Semakin jauh mereka berjalan, semakin berubah suara detak rumah. Tidak lagi terdengar seperti mesin. Melainkan seperti sesuatu yang sedang kelelahan. Seperti jantung yang telah berdetak terlalu lama.

Di sepanjang lorong terdapat puluhan pintu kaca.

Sebagian pecah.

Sebagian berembun.

Sebagian tertutup rapat.

Di baliknya terdapat tumpukan arsip.

Kaset.

Foto.

Surat.

Rekaman suara.

Kenangan.

Ribuan kenangan.

"Ya Tuhan..." bisik Sena.

"Berapa banyak yang dia simpan?"

"Terlalu banyak." jawab Gideon pelan. ”Di setiap ruangan di bunker.”

Tak ada seorang pun yang membantah. Karena itulah inti masalahnya sejak awal. Dan mereka telah melihat semuanya.

Baskara tidak pernah tahu kapan harus berhenti.

Lorong berakhir pada sebuah ruangan bundar. Tidak sebesar kubah utama. Namun jauh lebih sunyi.

Di tengah ruangan berdiri sebuah konsol tua. Dan di atasnya...

terdapat sebuah proyektor yang masih menyala.

Krekk...

Begitu mereka mendekat, layar putih di dinding perlahan hidup.

Muncul rekaman lain.

Kali ini bukan Baskara.

Ratih langsung menutup mulut.

Karena perempuan di layar itu sangat mirip dirinya.

Larasati.

Masih muda.

Lihat selengkapnya