Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #28

Anak-anak Baskara

Suara nyanyian itu berhenti.

Mendadak. Seolah seseorang di balik dinding menyadari mereka sedang mendengarkan.

Sunyi.

Tang.

Tang.

Tang.

Detak rumah kembali mengambil alih kesunyian. Namun kali ini tidak ada yang terburu-buru mengejar suara itu.

Tidak ada yang berlari.

Tidak ada yang berteriak.

Karena setelah dua puluh tahun mencari jawaban...

mereka akhirnya mendapatkannya.

Larasati tidak hilang. Larasati tidak meninggalkan siapa pun. Larasati memilih untuk tinggal. Dan pilihan itu mengubah segalanya.

Ratih duduk perlahan di lantai logam. Air matanya belum berhenti. "Aku membencinya." katanya tiba-tiba.

Tak seorang pun terkejut.

"Aku membenci Ayah."

Tang.

Tang.

Tang.

Kalimat itu menggema di ruangan. Seperti sesuatu yang telah dipendam terlalu lama.

"Aku membencinya selama dua puluh tahun."

Tirta menunduk. Karena ia tahu. Mereka berdua sama.

Ratih tertawa kecil. Namun tawanya terdengar patah. "Lucu sekali." katanya.

"Selama ini aku menyalahkan Ayah karena Kak Larasati menghilang."

Ia menghapus air matanya. "Ternyata Kak Larasati memilih pergi."

"Tapi itu tidak membuatku berhenti marah."

Untuk pertama kalinya Gideon tidak mencoba membela Baskara. Karena kemarahan itu memang nyata. Dan pantas ada.

Ratih menatap lantai. "Ayah selalu berada di rumah."

"Tapi rasanya tidak pernah benar-benar ada."

Tang.

Tang.

Tang.

"Aku ingat waktu ulang tahunku yang kesepuluh."

Sena dan Arkana diam mendengarkan.

"Aku menunggu sampai malam." Ratih tersenyum pahit. "Katanya Ayah akan datang."

"Tapi yang datang hanya hadiah."

Sunyi.

"Hadiahnya lebih besar daripada tubuhku."

"Tapi Ayah tidak datang." Air mata kembali jatuh. "Aku bahkan tidak mengingat hadiahnya."

Ratih menutup mata. "Aku hanya mengingat bahwa Ayah tidak datang."

Tak ada yang berbicara. Karena semua orang pernah memiliki luka seperti itu. Luka yang tampak kecil. Namun tinggal selamanya.

Lalu Tirta tertawa. Pendek. Kering. "Kalau aku berbeda."

Semua menoleh.

"Aku tidak menunggu."

Ratih mengangkat kepala.

"Aku berhenti berharap lebih cepat."

Tang.

Tang.

Tang.

"Aku pergi dari rumah saat umur tujuh belas." Suara Tirta datar. "Karena aku sadar ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kukalahkan."

"Apa?" tanya Sena.

Tirta menatap ke arah mesin-mesin tua.

Lihat selengkapnya