Tidak ada yang berbicara setelah suara Larasati menghilang.
Ruangan Arsip Utama kembali sunyi.
Hanya suara mesin.
Dan detak rumah.
Tang.
Tang.
Tang.
Namun kini detak itu terasa berbeda. Seperti ratapan.
Ratih masih memegang kotak milik Marni. Jari-jarinya menyentuh foto keluarga yang mulai menguning. Di foto itu mereka semua tersenyum.
Baskara.
Marni.
Larasati.
Ratih.
Tirta.
Sebuah keluarga utuh. Sebuah keluarga yang sudah lama tidak ada.
"Aku membencinya." ucap Ratih lagi. Namun kali ini suaranya berbeda. Tidak sekeras sebelumnya. Lebih lelah.
"Aku membencinya karena dia membuat kita kehilangan segalanya." Air matanya jatuh ke foto. "Tapi yang paling kubenci..." Ratih menunduk. "...aku masih merindukannya."
Sunyi.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kemarahan. Karena itulah luka yang sesungguhnya. Bukan kebencian. Melainkan cinta yang tidak pernah sempat selesai.
Tirta berdiri membelakangi mereka. Bahu pria itu menegang. Selama ini ia selalu terlihat paling kuat. Paling dingin. Paling sulit disentuh.
Namun sekarang Arkana melihat sesuatu yang berbeda. Kelelahan. Kelelahan yang telah dipikul bertahun-tahun.
"Aku pernah kembali." kata Tirta tiba-tiba.
Ratih mengangkat kepala. "Apa?"
Tirta tertawa kecil. "Pulang."
Sunyi.
"Setelah aku pergi dari rumah."
"Aku kembali setahun kemudian."
Ratih membeku. Karena ia tidak pernah mengetahui hal itu. "Bohong."
"Tidak." jawab Tirta. "Aku kembali."
Tang.
Tang.
Tang.
Suara detak rumah menggema.
"Aku pikir Ayah akan berubah." Tirta menatap lantai. "Aku pikir dia akan mencariku."
Ratih mulai menangis lagi. Karena ia tahu akhir cerita itu.
"Aku berdiri di depan ruang kerjanya hampir satu jam." lanjut Tirta. "Satu jam."
"Sebelum akhirnya Gideon keluar."
Gideon menutup mata. Ia mengingat malam itu.
Ia mengingat semuanya.
"Ayah bahkan tidak tahu aku datang." kata Tirta.
Sunyi.
"Ayah sedang mendengarkan rekaman suara Ibu."
Tidak ada yang berbicara. Karena tidak ada yang perlu dikatakan. Luka itu sudah terlalu tua.
Terlalu dalam.