BRAAAKKK!
Seluruh Ruang Arsip Utama berguncang. Rak-rak logam roboh. Kotak-kotak kenangan berjatuhan ke lantai. Foto-foto beterbangan seperti daun kering diterpa badai.
Arkana memeluk amplop peninggalan Larasati erat-erat.
Nyaris saja benda itu terlepas dari tangannya.
Tang.
Tang.
Tang.
Detak rumah kini terdengar cepat. Panik. Tidak teratur.
Lampu-lampu berkedip liar. Lalu seluruh layar di ruangan menyala bersamaan.
KRRRSSSHHH...
Tulisan merah muncul memenuhi monitor.
PROTOKOL PERTAHANAN AKTIF
PROTOKOL PERTAHANAN AKTIF
PROTOKOL PERTAHANAN AKTIF
Ratih menatap sekeliling. "Apa maksudnya?"
Gideon langsung berubah pucat. Lebih pucat daripada sebelumnya. Karena ia mengenali kalimat itu.
Dan ia tahu apa artinya. "Itu sistem darurat Baskara."
"Apa bahayanya?" teriak Sena.
Gideon tidak langsung menjawab.
Karena pada saat itu...
seluruh lantai tiba-tiba bergerak.
KRRRRRRKKKKK!
Semua terhuyung.
Potongan-potongan lantai logam bergeser.
Membelah.
Berputar.
Berubah bentuk.
Lorong yang tadi mereka lewati menghilang.
Digantikan dinding baja yang naik dari bawah tanah.
BRAKK!
Jalan pulang tertutup.
Sunyi.
Tirta mengumpat pelan. "Rumah ini baru saja mengurung kita."
Dan itulah kenyataannya.
Tang.
Tang.
Tang.
Di seluruh kubah, roda-roda raksasa mulai berputar. Pintu-pintu otomatis menutup. Jembatan logam bergeser. Tangga-tangga berpindah tempat.
Rumah Kamboja berubah.
Secara nyata. Seolah bangunan itu hidup.
Atau setidaknya...
berusaha bertahan hidup.
"Rumah sedang mengisolasi inti." kata Gideon.
"Mengapa?"
"Karena sesuatu menganggap kita ancaman."
Tak seorang pun perlu bertanya siapa "sesuatu" itu.
Mereka semua sudah tahu.
Bukan monster.
Bukan hantu.
Melainkan sistem yang selama puluhan tahun dibangun untuk melindungi seluruh arsip di dalam rumah.