Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #32

Gideon Memilih

Lorong itu menurun tajam.

Gelap.

Lembap.

Dan semakin dalam.

Arkana berjalan paling depan. Di belakangnya Sena. Ratih. Tirta.

Dan paling belakang...

Gideon.

Tang.

Tang.

Tang.

Detak rumah masih terdengar. Namun kini lebih pelan. Lebih berat. Seperti napas seseorang yang kelelahan.

Tidak ada yang banyak bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Ratih memikirkan Larasati. Tirta memikirkan Baskara. Arkana memikirkan surat yang belum sempat ia buka. Sena mungkin memikirkan menyesal datang, menyesal tahu dia adalah cucu Baskara.

Dan Gideon...

memikirkan dosa yang telah menemaninya selama dua puluh tahun.

Lorong berbelok. Lalu berakhir pada sebuah persimpangan tua. Di sana terdapat tiga jalur berbeda.

Satu menuju bawah.

Satu menuju timur.

Satu lagi menuju ruang mesin.

Gideon langsung berhenti. Matanya membesar. "Tidak."

Semua menoleh.

"Ada apa?" tanya Sena.

Gideon tidak menjawab. Karena di dinding persimpangan itu masih tergantung sesuatu.

Sebuah papan kuningan tua.

Debunya tebal.

Namun tulisannya masih terbaca.

AKSES INTI

KHUSUS BASKARA DEWANTARA

DAN PENJAGA UTAMA

Sunyi.

Ratih menatap tulisan itu. "Penjaga utama."

Matanya beralih ke Gideon. "Kau."

Pria tua itu menunduk.

Ya. Selama ini ia bukan sekadar pelayan. Bukan sekadar penjaga rumah.

Ia adalah orang kepercayaan Baskara.

Orang yang mengetahui seluruh rahasia rumah.

Dan orang yang membantu menjaga semuanya tetap tersembunyi.

Tang.

Tang.

Tang.

"Aku ikut membangun sebagian sistem ini." ucap Gideon pelan.

Sunyi.

"Aku ikut menyimpan arsip."

"Aku ikut menutup lorong-lorong."

"Aku ikut merahasiakan apa yang terjadi pada Larasati."

Ratih menatapnya. Tidak marah. Tidak lagi. Hanya lelah.

"Kenapa?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Mengapa?

Lihat selengkapnya