Mereka berlari.
Tidak ada lagi alasan untuk berhenti.
Tidak ada lagi misteri yang perlu dipecahkan.
Yang tersisa hanyalah waktu.
Dan waktu sedang habis.
Tang.
Tang.
Tang.
Detak Rumah Kamboja menggema dari segala arah.
Lebih cepat.
Lebih keras.
Seperti jantung yang sedang sekarat.
Lorong-lorong bergetar di sekitar mereka. Pipa-pipa tua mengerang. Roda-roda raksasa berputar jauh di bawah lantai.
KRRRRRRKKKKK...
KRRRRRRKKKKK...
KRRRRRRKKKKK...
Arkana memimpin di depan. Di belakangnya Gideon. Pria tua itu kini bergerak dengan tujuan yang jelas.
Tidak lagi seperti penjaga.
Tidak lagi seperti seseorang yang melindungi rumah.
Melainkan seseorang yang ingin mengakhirinya.
"Belok kanan!" teriaknya.
Kelompok itu langsung mengikuti.
Beberapa detik kemudian...
dinding baja raksasa jatuh menutup lorong yang baru saja mereka lewati.
BRAAAKKK!
Sena menoleh. Wajahnya pucat. "Itu hampir mengenai kita."
"Itu memang tujuannya." jawab Gideon.
Sunyi.
Rumah kini benar-benar sedang melawan.
Tang.
Tang.
Tang.
Mereka memasuki lorong lain.
Lebih sempit.
Lebih tua.
Dindingnya dipenuhi pipa tembaga dan kabel-kabel kuningan. Jejak rancangan awal Rumah Kamboja.
"Ini bagian tertua." kata Gideon. "Sudah ada sejak jaman kolonial, Baskara memanfaatkannya. Dibantu Marni."
Ratih memperlambat langkah. Matanya menyapu dinding. Ia merasa sedang berjalan di dalam sejarah keluarganya sendiri. Bukan sejarah yang diceritakan orang. Melainkan sejarah yang benar-benar ada.
Di balik karat.
Di balik debu.
Di balik waktu.
BRAAAKKK!
Getaran lain menghantam lorong.
Lampu-lampu padam sesaat.
Gelap.