Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #34

Nyanyian Nina Bobo

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Mereka berdiri di depan pintu raksasa itu.

Mendengarkan.

Lagu itu masih terdengar.

Pelan.

Lembut.

Namun kini tidak lagi samar. Tidak lagi seperti gema. Tidak lagi seperti ilusi yang diciptakan rumah. Melainkan suara seseorang yang benar-benar bernyanyi.

Ratih menutup mulutnya. Air mata mulai mengalir lagi. Karena ia mengenali lagu itu. Tirta juga. Bahkan Gideon. Semua mengenalnya.

Lagu yang dulu dinyanyikan Marni untuk anak-anaknya.

Lagu yang kemudian diteruskan Larasati.

Lagu yang telah lama menghilang dari Rumah Kamboja.

Dan kini...

setelah dua puluh tahun...

lagu itu kembali.

Tang.

Tang.

Tang.

Detak rumah perlahan melambat. Seolah ikut mendengarkan.

Arkana memejamkan mata. Setiap nada terasa akrab. Setiap kata terasa seperti rumah. Seperti masa kecil yang selama ini hilang. Seperti pelukan yang tidak pernah sempat ia simpan.

Lagu itu terus mengalun.

Dan sesuatu yang aneh terjadi.

Seluruh sistem rumah perlahan merespons. Lampu-lampu yang berkedip liar mulai tenang. Suara mesin mereda. Alarm berhenti. Bahkan getaran bangunan melemah.

Seolah ada sesuatu yang lebih kuat daripada seluruh sistem pertahanan.

Sesuatu yang sudah ada sejak awal.

Sesuatu yang tidak pernah berhasil dipahami Baskara.

Kasih sayang.

Sunyi.

Ratih terisak. "Aku ingat." bisiknya.

"Aku ingat malam-malam ketika listrik padam." Senyum kecil muncul di wajahnya. "Ibu menyanyikan lagu itu."

Tirta mengangguk pelan. Raut keras di wajahnya runtuh.

"Aku juga ingat." Suara Tirta nyaris pecah. "Kita bertiga berebut tidur di sebelah Kak Larasati."

Ratih tertawa kecil di sela tangisnya. "Dan Ayah selalu protes karena kami terlalu berisik."

Sunyi.

Untuk sesaat...

mereka tidak sedang berada di jantung rumah.

Mereka kembali menjadi keluarga.

Keluarga yang belum pecah.

Keluarga yang belum kehilangan siapa pun.

Tang.

Tang.

Tang.

Gideon memalingkan wajah. Karena matanya mulai basah.

Lihat selengkapnya