Pintu raksasa terbuka sepenuhnya. Dan seluruh dunia seolah berhenti.
Tidak ada suara mesin. Tidak ada alarm. Tidak ada bunyi roda gigi.
Hanya keheningan.
Keheningan yang hangat.
Di balik pintu itu terbentang sebuah ruangan bundar yang sangat besar. Namun berbeda dengan seluruh bagian Rumah Kamboja yang pernah mereka lihat.
Tidak ada kesan mengancam.
Tidak ada bayangan menyeramkan.
Tidak ada lorong gelap.
Ruangan itu justru dipenuhi cahaya keemasan.
Di tengahnya berdiri sebuah pohon. Atau sesuatu yang menyerupai pohon. Batangnya tersusun dari ribuan kabel tembaga. Cabangnya menjalar ke seluruh langit-langit. Dan di ujung cabang-cabang itu tergantung ribuan kapsul kaca bercahaya.
Seperti buah.
Seperti bintang.
Seperti kenangan yang tidak pernah padam.
Ratih terdiam. Sena tidak sanggup berkata apa-apa. Bahkan Gideon terlihat kehilangan kata-kata.
Karena mereka baru menyadari sesuatu.
Inilah jantung Rumah Kamboja.
Inilah tempat seluruh kenangan berakhir.
Tang.
Tang.
Tang.
Detaknya kini terdengar pelan. Lembut. Hampir damai.
Lalu Arkana melihatnya. Seseorang berdiri di bawah pohon itu. Membelakangi mereka.
Rambut panjang. Gaun sederhana berwarna pucat. Tubuh yang tampak rapuh.
Namun sangat dikenal. Sangat akrab. Sangat dirindukan.
"Ibu..."
Perempuan itu perlahan berbalik.
Dan waktu runtuh.
Arkana tidak lagi melihat ruang inti. Tidak lagi melihat pohon. Tidak lagi melihat siapa pun.
Hanya satu wajah.
Wajah yang selama ini hanya hidup dalam foto.
Wajah yang selama ini hanya hidup dalam mimpi.
Larasati.
Air mata langsung memenuhi mata Arkana.
Begitu juga Larasati.
Selama beberapa detik...
tak satu pun dari mereka bergerak.
Karena dua puluh tahun kehilangan terlalu besar untuk dipadatkan menjadi satu kalimat.
Lalu Larasati tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang selalu diingat Arkana. Dan itulah yang menghancurkannya. Karena tidak ada mesin yang bisa menciptakan senyum seperti itu.
Tidak ada arsip yang bisa meniru kehangatan seperti itu.