Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #36

Pilihan

Tidak ada yang berbicara.

Pohon kenangan berdiri menjulang di tengah ruangan. Ribuan kapsul cahaya berpendar lembut di antara cabang-cabang tembaga. Seperti bintang yang ditangkap dan dipaksa tetap bersinar.

Tang.

Tang.

Tang.

Detak rumah kini terdengar sangat pelan.

Seolah menunggu.

Seolah mendengarkan.

Larasati menatap Arkana. Lalu perlahan menunjuk pohon itu.

"Ini bukan mesin." katanya. "Atau setidaknya tidak lagi."

Arkana mengernyit. "Apa maksudnya?"

Larasati menghela napas. "Awalnya Ayah membangun tempat untuk menyimpan kenangan."

"Tetapi semakin besar sistemnya..."

"...semakin banyak hal yang tersambung ke dalamnya."

Foto.

Suara.

Tulisan.

Ingatan.

Emosi.

Rasa kehilangan.

Harapan.

Penyesalan.

Tang.

Tang.

Tang.

"Rumah Kamboja tidak lagi menyimpan data." kata Larasati. "Rumah Kamboja menyimpan manusia."

Sunyi.

Ratih memejamkan mata. Karena kalimat itu mengingatkannya pada pelat kuningan yang mereka temukan jauh di awal.

Arsip Memori.

Subjek.

Penyimpanan.

Dan kini semuanya masuk akal.

"Ayah tidak pernah berniat menciptakan penjara." lanjut Larasati. "Tapi itulah yang akhirnya terjadi."

Ia menyentuh batang pohon. Cahaya di seluruh ruangan berdenyut lembut.

"Semakin banyak kenangan disimpan..."

"...semakin rumah takut kehilangannya."

Tang.

Tang.

Tang.

Arkana merasakan sesuatu yang aneh. Rumah ini. Seluruh rumah ini. Sebenarnya hanyalah cermin Baskara.

Ketakutan Baskara.

Kesedihan Baskara.

Penolakannya terhadap kehilangan.

Dan kini ketakutan itu hidup sendiri.

"Aku menahannya selama dua puluh tahun." kata Larasati. "Tapi aku tidak bisa selamanya."

Sunyi.

Kemudian Larasati menatap langsung ke mata Arkana.

Dan kali ini...

senyumnya menghilang.

Yang tersisa hanya kejujuran.

Lihat selengkapnya