Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #37

Pengorbanan

BRAAAAAKKKK!

Seluruh inti rumah berguncang. Pohon kenangan berderit keras. Cabang-cabang tembaga retak satu demi satu. Kapsul-kapsul cahaya berayun liar di udara. Beberapa pecah.

Dan saat pecah...

ribuan serpihan cahaya melayang seperti kunang-kunang.

Tang.

Tang.

Tang.

Detak rumah berubah menjadi raungan. Sebuah suara yang tidak lagi terdengar seperti jantung. Melainkan sesuatu yang sedang sekarat.

Atau marah.

"Semua menjauh dari pohon!" teriak Larasati.

Mereka langsung mundur.

Terlambat.

BRAKKK!

Salah satu cabang raksasa runtuh. Menghantam lantai. Getarannya membuat seluruh ruangan bergetar.

Alarm menyala di mana-mana. Lampu merah berkedip. Asap mulai memenuhi langit-langit. Dan suara peringatan terus menggema.

INTI KRITIS.

INTI KRITIS.

INTI KRITIS.

Ratih memucat. "Apa yang terjadi?!"

Larasati menatap pohon itu. "Sistem kehilangan keseimbangan."

"Karena kita sudah sampai di sini?" tanya Sena.

Larasati menggeleng. "Bukan."

Matanya perlahan beralih ke Arkana.

"Karena rumah tahu aku akan memilih pergi."

Sunyi.

Kalimat itu menghantam semua orang.

Rumah tahu.

Rumah mengerti.

Atau setidaknya...

sistem telah mengenali ancaman terhadap keberadaannya sendiri.

Tang.

Tang.

Tang.

Lalu Gideon melangkah maju. Matanya tertuju pada bagian bawah pohon. Pada sebuah silinder logam besar yang selama ini tersembunyi di balik akar-akar tembaga.

Wajahnya langsung berubah. "Aku ingat." bisiknya.

"Apa?"

Pria tua itu mendekat.

Semakin dekat.

Seolah melihat sesuatu dari masa lalu.

"Cadangan inti."

Larasati langsung menoleh. Dan... ia tampak terkejut.

"Kau masih ingat itu?" Gideon tersenyum pahit.

"Tidak banyak."

"Tapi cukup."

Sunyi.

Ratih mengernyit. "Gideon, apa maksudmu?"

Pria tua itu tidak menjawab. Ia berjalan mengitari pohon. Tangannya menyentuh salah satu panel tua.

Debunya runtuh.

Lihat selengkapnya