Sunyi.
Tidak ada lagi detak.
Tidak ada lagi suara roda gigi.
Tidak ada lagi alarm.
Hanya kesunyian. Kesunyian yang terasa asing. Karena sejak mereka memasuki Rumah Kamboja...
selalu ada suara yang menemani.
Tang.
Tang.
Tang.
Dan sekarang...
suara itu hilang.
Benar-benar hilang.
Ratih berdiri mematung di depan pintu baja. Matanya merah. Tangannya masih menempel pada permukaan logam yang dingin.
"Gideon..." Tidak ada jawaban.
Tidak akan pernah ada.
Tirta memejamkan mata ....
ia tidak memiliki kemarahan.
Hanya kehilangan.
Sena menunduk. Sementara Arkana berdiri diam. Kunci inti masih berada dalam genggamannya.
Hangat.
Seolah baru saja diberikan.
Tang.
...
Tidak ada apa-apa. Dan justru itulah yang membuat dadanya sesak. Karena Gideon berhasil.
Rumah sudah mati.
BRAKKK...
Suara retakan terdengar dari atas. Semua mendongak.
Pohon kenangan mulai runtuh. Cabang-cabang tembaga patah satu demi satu. Kapsul-kapsul cahaya pecah.
Dan setiap kali sebuah kapsul pecah...
cahaya kecil keluar darinya.
Melayang ke udara. Naik perlahan. Seperti ribuan kunang-kunang. Seperti jiwa-jiwa yang akhirnya dibebaskan.
Ratih menatapnya. "Apa itu?"
Larasati tersenyum lembut. "Kenangan."
Sunyi.
"Kenangan yang selama ini dikurung."
Mereka semua memandang ke atas.
Setelah malam yang mencekam dan rumah yang selalu marah, kali ini ...
Rumah Kamboja tampak indah.
Bukan menyeramkan.