Mereka berhasil keluar dari inti.
Atau lebih tepatnya...
inti yang mendorong mereka keluar.
Lorong-lorong Rumah Kamboja runtuh satu demi satu di belakang mereka.
Pipa-pipa pecah. Dinding retak. Tangga ambruk.
Namun anehnya...
tidak ada lagi rasa takut.
Karena rumah itu sudah kalah. Bukan oleh ledakan. Bukan oleh mesin. Melainkan oleh sesuatu yang tidak pernah dipahami Baskara sampai akhir hidupnya.
Keberanian untuk melepaskan.
BRAAAKKK!
Sebuah lorong runtuh di belakang mereka.
Debu memenuhi udara.
Sena batuk. Ratih hampir tersandung. Tirta langsung menariknya. Mereka terus berlari.
Melewati ruang arsip.
Melewati ruang mesin.
Melewati aula tua yang pertama kali mereka masuki.
Dan saat mereka tiba di aula utama...
sesuatu menarik perhatian Arkana.
Sebuah cahaya.
Berkedip dari atas meja besar di tengah ruangan.
Meja kerja Baskara.
Yang selama ini menjadi pusat segala rahasia.
"Arka!" teriak Sena. "Kita harus pergi!"
Namun Arkana tidak bergerak. Karena di atas meja itu terdapat sebuah proyektor tua. Yang tiba-tiba menyala sendiri.
Klik.
Semua membeku. Gambar bergetar muncul di udara. Buram. Penuh gangguan.
Namun wajah itu langsung dikenali semua orang.
Baskara.
Ratih menahan napas. Tirta mengepalkan tangan.
Dan Gideon...
sudah tidak ada untuk melihatnya.
Sunyi.
Video itu tampaknya direkam bertahun-tahun lalu. Rambut Baskara masih hitam. Matanya masih tajam.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Ia tampak lelah.
Sangat lelah.
Baskara menatap kamera. Lama. Seolah mencari kata-kata.
Lalu akhirnya berbicara. "Jika kalian melihat rekaman ini..."
Gambar berguncang.
"...berarti aku gagal."
Sunyi.
Tidak ada seorang pun yang menyela. Bahkan Tirta. Bahkan Ratih.
Sesuatu berbeda, baru kali ini...