Mereka berlari.
Tidak menoleh.
Tidak berhenti.
Tidak lagi mencari jawaban.
Karena semua jawaban sudah mereka temukan.
BRAAAAKKKK!
Sebagian atap aula runtuh di belakang mereka. Debu memenuhi udara. Pilar-pilar tua mulai patah. Kaca-kaca besar pecah satu per satu.
Rumah Kamboja sedang mengakhiri dirinya sendiri.
Dan...
tak seorang pun berusaha menghentikannya.
Tang.
...
Tidak ada lagi detak. Keheningan itu terasa aneh. Namun juga menenangkan. Seperti luka yang akhirnya berhenti berdarah.
Mereka melewati beranda depan.
Melewati taman kamboja yang dulu tampak menyeramkan.
Melewati gerbang besi tua yang selama ini menjadi batas antara masa lalu dan masa kini.
Lalu...
mereka keluar.
Benar-benar keluar.
Dan saat kaki mereka menginjak tanah di luar rumah...
semuanya berhenti.
Sunyi.
Mereka menoleh. Rumah Kamboja berdiri di belakang mereka. Masih megah. Masih besar. Masih tampak seperti rumah yang menyimpan ribuan rahasia.
Namun kini berbeda.
Kosong.
Tidak ada lagi kehidupan di dalamnya.
Tidak ada lagi suara.
Tidak ada lagi kenangan yang terperangkap.
Tidak ada lagi Larasati.
Tidak ada lagi Gideon.
Hanya sebuah rumah tua.
Dan pada akhirnya...
Rumah Kamboja hanyalah rumah.
BRAAAAKKKK!
Menara kecil di sisi timur runtuh perlahan. Disusul sebagian atap utama. Debu membumbung ke langit.
Ratih menangis. Diam-diam. Tidak keras. Tidak histeris. Hanya air mata yang mengalir tanpa henti.