Ketukan Ketiga

Tethy Ezokanzo
Chapter #41

Epilog - Warisan yang Tidak Tertulis

Tiga bulan kemudian.

Tidak ada lagi Rumah Kamboja.

Yang tersisa hanyalah sebidang tanah kosong. Rumput liar mulai tumbuh. Angin berembus pelan melewati puing-puing yang belum sepenuhnya dibersihkan.

Dan tidak ada lagi suara ketukan.

Tidak pernah lagi.

Tang.

Tang.

Tang.

Suara itu telah pergi bersama rumah.

Bersama rahasia.

Bersama masa lalu.

Arkana berdiri di depan sebuah makam sederhana. Di tangannya tergenggam setangkai bunga kamboja putih. Nama yang terukir di batu nisan itu sederhana.

LARASATI DEWANTARA

Tidak ada tanggal kematian.

Karena tak seorang pun benar-benar tahu kapan Larasati pergi.

Dua puluh tahun lalu. Atau tiga bulan lalu.

Mungkin keduanya.

Tapi akhirnya ada sebuah makan sebagai penanda perpisahan.

Arkana meletakkan bunga itu. Lalu duduk di rumput.

Sunyi.

Namun kali ini bukan kesunyian yang menyakitkan. Melainkan kesunyian yang damai.

Ia tidak lagi datang untuk mencari jawaban.

Tidak lagi berharap mendengar suara.

Tidak lagi berharap keajaiban.

Karena akhirnya ia mengerti. Beberapa orang tidak tinggal bersama kita selamanya. Namun cinta mereka tinggal.

Dan itu sudah cukup.

Angin berembus lembut. Membawa aroma bunga kamboja.

Arkana tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Bu." bisiknya.

Kali ini, benar-benar baik dan ia benar-benar percaya pada kalimat itu.

Di kejauhan terdengar suara motor.

Sena.

Tentu saja.

Perempuan itu datang sambil melambaikan tangan. Dan membawa dua gelas es kopi.

"Kalau bicara sama makam lebih dari lima menit, bayar sewa tempat." katanya. ”Jangan lupa, aku juga pewaris tanah ini.”

Arkana tertawa. Tanpa beban.

Mereka duduk berdampingan.

Memandang langit siang.

Tanpa terburu-buru.

Lihat selengkapnya