Jakarta selalu tampak indah dari lantai tiga puluh dua.
Dari balik dinding kaca kantornya, Aira memandang hamparan gedung pencakar langit yang menjulang seperti hutan beton tanpa ujung. Sinar matahari pagi memantul dari jendela-jendela gedung, menciptakan kilauan yang memukau sekaligus menyilaukan.
Di usia empat puluh dua tahun, Aira telah mencapai banyak hal yang dulu hanya berani ia impikan.
Ia adalah CEO sebuah perusahaan pendidikan nasional yang memiliki cabang di berbagai kota. Namanya dikenal sebagai perempuan tangguh, cerdas, dan berintegritas. Banyak orang mengaguminya. Banyak pula yang iri. Namun tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu bahwa setiap malam ia pulang ke rumah dengan luka yang tidak pernah sembuh.
Luka bernama Arman.
Pria yang pernah menjadi suaminya.
Pria yang pernah ia cintai dengan seluruh ketulusan yang dimilikinya.
Dan pria yang kini menjadi sumber dari hampir semua kesedihan yang masih menghantuinya.
"Ada revisi laporan investasi, Bu." Suara sekretarisnya membuyarkan lamunannya.
Aira berbalik dan tersenyum profesional. "Taruh di meja saya."
"Baik, Bu."
Ketika pintu tertutup kembali, ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
"Bu Aira, mohon maaf mengganggu. Ada seseorang yang menghubungi pihak sponsor dan mempertanyakan kelayakan beasiswa anak-anak Ibu."
Aira memejamkan mata sesaat.
Ia tidak perlu menebak siapa pelakunya.
Rendra Mahardika.
Lagi.
Di tempat lain, Rendra duduk di sebuah kafe kecil.
(Rendra berasal dari keluarga sederhana dan memiliki ambisi besar untuk sukses. Ia ulet, pekerja keras, pandai berbicara, dan mampu membangun relasi dengan banyak orang. Namun di balik kepandaiannya, ia memiliki sifat egois dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Ketika menikah dengan Aira, ia merasa bangga memiliki istri yang mendukung perjuangannya. Namun ketika Aira berkembang lebih sukses dan lebih dihormati daripada dirinya, perlahan muncul rasa iri dan rendah diri yang berubah menjadi kebencian.
Ia tidak membenci Aira karena tidak mencintainya lagi. Ia membenci Aira karena: "Aira berhasil bangkit tanpa dirinya."
Keberhasilan Aira menjadi cermin yang terus-menerus mengingatkannya pada kegagalannya sendiri. Setiap kali melihat nama Aira muncul di media atau mendengar prestasi Roni dan Rama, ia merasa kalah. Bukan kalah dari dunia. Tetapi kalah dari perempuan yang dulu pernah dianggapnya lemah.
Rendra Mahardika masih terlihat gagah meskipun usianya mendekati lima puluh tahun. Jas mahal yang dikenakannya tidak mampu menyembunyikan kegelisahan yang tersimpan di balik sorot matanya. Ia adalah pria yang pernah dicintai Aira dengan sepenuh hati, namun juga pria yang perlahan menghancurkan rumah tangga mereka dengan ego yang tak pernah berhasil dikalahkannya.
Di hadapan orang lain, Rendra tampak sebagai sosok yang sukses dan berwibawa. Namun jauh di dalam dirinya, ada luka yang tidak pernah sembuh: kenyataan bahwa mantan istrinya mampu menjadi lebih kuat, lebih dihormati, dan lebih bahagia tanpa dirinya.
Wajahnya telah menua, tetapi sorot matanya masih menyimpan kecerdikan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Ia menempelkan ponsel ke telinga.
"Pokoknya saya hanya ingin memastikan perusahaan itu tahu siapa sebenarnya Aira."
Di ujung telepon seseorang menjawab.
Tono tersenyum tipis.
"Kalau reputasinya jatuh, dia tidak akan bisa sesombong sekarang."
Ia mengakhiri panggilan.
Tak ada rasa bersalah.
Tak ada penyesalan.
Yang ada hanya kepuasan karena berhasil mengusik ketenangan mantan istrinya.
***
Hari yang sama.
Di sebuah sekolah menengah favorit , dimana Raka Mahardika dan Arya Mahardika belajar,