Ketulusan yang Tak Berpintu

Siti Yulaeha
Chapter #4

BAB 4 Ketika Ketulusan Diuji oleh Keserakahan


Waktu berjalan hampir satu tahun sejak Aira menikah dengan Bapak Wirawan Santoso.

Di mata tetangga dan teman-teman dekat, rumah mereka tampak baik-baik saja. Bapak Wirawan Santoso terlihat lebih sehat, lebih terawat, dan lebih bahagia dibandingkan saat hidup sendiri. Aira merawatnya dengan penuh perhatian, bahkan melebihi perhatian yang pernah ia berikan kepada dirinya sendiri.

Namun di balik semua itu, ada perang yang berlangsung diam-diam.

Perang yang tidak menggunakan suara.

Tidak menggunakan senjata.

Melainkan menggunakan prasangka, fitnah, dan keserakahan.

Suatu sore, Bapak Wirawan Santoso pulang dari pertemuan dengan anak-anaknya.

Wajahnya tampak murung.

Biasanya ia akan langsung duduk di ruang keluarga dan bercerita kepada Aira tentang apa pun yang terjadi. Namun kali ini ia memilih masuk kamar.

Aira merasakan ada sesuatu yang berbeda.

Saat makan malam, pria tua itu terlihat banyak diam.

"Pak, ada masalah?" tanya Aira lembut.

Bapak Wirawan Santoso menggeleng.

"Tidak ada."

Namun sorot matanya mengatakan sebaliknya.

Beberapa hari kemudian, kebenaran itu muncul.

Saat sedang membersihkan ruang kerja Bapak Wirawan Santoso, Aira menemukan sebuah amplop cokelat yang terjatuh dari tumpukan buku.

Ia tidak berniat membukanya.

Namun nama dirinya tertulis besar di bagian depan.

Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat salinan percakapan grup keluarga.

Kalimat demi kalimat membuat dadanya sesak.

"Ayah sudah berubah sejak menikah dengan perempuan itu."

Lihat selengkapnya