BAB 6
Retaknya Tubuh, Kuatnya Jiwa
Hujan turun sejak pagi.
Rintiknya membasahi halaman rumah yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempat Bapak Wirawan Santoso menemukan ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan di tempat lain.
Namun pagi itu berbeda.
Bapak Wirawan Santoso tidak keluar kamar seperti biasanya.
Tidak terdengar suara televisi.
Tidak terdengar suara batuk kecilnya yang selalu menjadi penanda bahwa ia telah bangun.
Aira yang sedang menyiapkan sarapan mulai merasa khawatir.
Ia mengetuk pintu kamar.
"Pak, sudah bangun?"
Tidak ada jawaban.
Ia membuka pintu perlahan.
Dan mendapati Bapak Wirawan Santoso terduduk di sisi tempat tidur dengan wajah pucat.
Tangannya memegang dada.
Napasnya pendek-pendek.
Aira segera berlari menghampiri.
"Pak!"
"Aku tidak apa-apa..." jawabnya pelan.
Namun tubuhnya tiba-tiba limbung.
Beruntung Aira berhasil menopangnya sebelum jatuh ke lantai.
"Raka ! Arya!"
Kedua anak itu berlari dari ruang makan.
Dalam hitungan menit mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang tidak ringan.
Usia yang semakin lanjut mulai meninggalkan jejak pada tubuh Bapak Wirawan Santoso.
Tekanan darahnya tidak stabil.
Jantungnya mulai melemah.
Dokter meminta agar aktivitasnya dibatasi.
Ia juga harus menjalani pengobatan rutin dan pengawasan ketat.
Di ruang konsultasi, Bapak Wirawan Santoso hanya tersenyum tipis.
Seolah semua itu hanyalah angka-angka biasa.
Namun ketika dokter keluar, Aira melihat sesuatu yang berbeda.
Ada ketakutan dalam mata lelaki tua itu.
Ketakutan yang selama ini selalu disembunyikannya.
"Aku mulai tua ya, Ra?" katanya pelan.
Aira menggenggam tangannya.
"Bapak sudah tua sejak pertama kali saya kenal."
Bapak Wirawan Santoso tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu.
Namun setelah tawa itu menghilang, suasana kembali sunyi.
Karena mereka berdua tahu bahwa waktu tidak bisa dihentikan.
Kabar sakitnya Bapak Wirawan Santoso dengan cepat menyebar ke anak-anak kandungnya.
Anehnya, mereka mulai sering datang.
Hampir setiap minggu.
Bahkan beberapa yang sebelumnya jarang menghubungi kini mendadak sangat perhatian.
Awalnya Aira merasa lega.
Mungkin mereka akhirnya menyadari bahwa ayah mereka membutuhkan kasih sayang.
Namun harapan itu tidak bertahan lama.
Suatu sore, ketika Aira sedang menyiapkan teh, ia mendengar percakapan dari ruang tamu.
"Yah, surat tanah yang di daerah itu masih atas nama Ayah, kan?"
Bapak Wirawan Santoso terdiam.
Anaknya melanjutkan.
"Kalau bisa segera dibereskan administrasinya."