Ketulusan yang Tak Berpintu

Siti Yulaeha
Chapter #7

BAB 7 Ketika Waktu Meminta Perpisahan


Rumah sakit selalu memiliki aroma yang sama.

Campuran antiseptik, obat-obatan, dan harapan yang perlahan memudar.

Sudah hampir tiga minggu Bapak Wirawan Santoso menjalani perawatan.

Tubuhnya semakin kurus.

Wajahnya semakin pucat.

Namun yang paling membuat Aira sedih adalah sorot mata pria tua itu.

Sorot mata yang seolah sedang berpamitan kepada dunia.

 

Pagi itu, dokter memanggil Aira ke ruang konsultasi.

Dokter terlihat ragu sebelum berbicara.

"Kami sudah melakukan yang terbaik."

Jantung Aira berdegup lebih cepat.

"Tapi kondisi jantung dan ginjal beliau terus menurun."

Aira menggenggam kedua tangannya erat.

"Berapa lama lagi, Dok?"

Dokter terdiam beberapa saat.

"Lima bulan... mungkin enam bulan. Bisa lebih cepat, bisa lebih lama."

Dunia terasa berhenti.

Meski selama ini ia sudah mempersiapkan diri, mendengar kenyataan secara langsung tetap terasa seperti pukulan.

Ketika keluar dari ruangan dokter, langkah Aira terasa berat.

Namun saat memasuki kamar rawat, ia kembali tersenyum.

Bapak Wirawan Santoso tidak boleh melihat kesedihannya.

Bukan sekarang.

 

Beberapa hari kemudian, badai yang sesungguhnya datang.

Salah satu anak Bapak Wirawan Santoso tanpa sengaja melihat map biru yang berisi surat wasiat.

Kabar itu menyebar dengan cepat ke seluruh keluarga.

Dan sejak saat itu, suasana berubah.

Mereka tidak lagi datang untuk menjenguk.

Mereka datang untuk mempertanyakan.

 

Sore itu, ruang rawat VIP yang biasanya tenang berubah menjadi tegang.

Empat anak Bapak Wirawan Santoso berdiri di depan tempat tidur ayah mereka.

Wajah mereka dipenuhi kemarahan.

"Ayah benar membuat wasiat?"

Bapak Wirawan Santoso mengangguk lemah.

"Lalu kenapa ada nama Aira di dalamnya?"

Anak perempuan sulungnya langsung menatap Aira dengan tajam.

"Saya tahu ini pasti ide Ibu."

Ruangan mendadak sunyi.

Aira menarik napas panjang.

"Saya tidak pernah meminta apa pun."

"Tolong jangan berpura-pura!"

Suara itu menggema di seluruh ruangan.

Raka yang sedang berdiri di sudut ruangan langsung maju.

"Tolong bicara yang sopan kepada ibu saya."

"Ini urusan orang tua!"

Lihat selengkapnya