Ketulusan yang Tak Berpintu

Siti Yulaeha
Chapter #8

BAB 8 Air Mata di Ujung Senja


Pagi itu langit Jakarta tampak mendung.

Awan kelabu menggantung rendah seolah ikut merasakan kesedihan yang perlahan memenuhi hati keluarga kecil itu.

Sudah hampir dua bulan Bapak Wirawan Santoso keluar masuk rumah sakit.

Tubuhnya semakin rapuh.

Langkahnya semakin lambat.

Bahkan untuk duduk di kursi ruang tamu pun kini membutuhkan bantuan.

Namun ada satu hal yang tidak berubah.

Senyumnya.

Senyum yang selalu berusaha menenangkan orang-orang di sekitarnya, meskipun dirinya sendiri sedang berperang melawan waktu.

 

Suatu sore, Bapak Wirawan Santoso meminta Aira membantunya duduk di teras rumah.

Tempat favorit mereka.

Tempat di mana banyak percakapan sederhana berubah menjadi kenangan yang tak tergantikan.

Angin sore berembus pelan.

Daun-daun mangga di halaman bergoyang lembut.

Bapak Wirawan Santoso memandang langit yang mulai berubah keemasan.

"Aira."

"Iya, Pak."

"Aku senang masih bisa melihat senja."

Aira tersenyum.

"Besok juga bisa melihat lagi."

Bapak Wirawan Santoso menggeleng pelan.

"Belum tentu."

Kalimat itu membuat dada Aira terasa sesak.

Namun ia memilih diam.

Karena terkadang diam adalah cara terbaik untuk menahan air mata.

 

Malam harinya, kondisi Bapak Wirawan Santoso mendadak memburuk.

Napasnya menjadi berat.

Tekanan darahnya turun drastis.

Aira segera membawanya ke rumah sakit.

Raka menyetir mobil dengan tangan gemetar.

Arya terus memegang tangan Bapak Wirawan Santoso dari kursi belakang.

"Ayah jangan tidur..."

bisiknya berkali-kali.

"Ayah harus kuat."

Bapak Wirawan Santoso membuka mata perlahan.

Lalu tersenyum.

Senyum yang sangat lemah.

"Saya kuat, Nak."

Namun semua orang tahu bahwa kekuatan itu mulai habis.

 

Di ruang ICU, dokter bekerja keras menstabilkan kondisinya.

Keluarga menunggu di luar.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, seluruh anak kandung Bapak Wirawan Santoso hadir.

Tak ada lagi pembicaraan tentang tanah.

Tak ada lagi pembicaraan tentang rumah.

Tak ada lagi pembicaraan tentang warisan.

Yang tersisa hanya ketakutan.

Ketakutan kehilangan ayah mereka.

Anak perempuan sulung yang selama ini paling keras menolak Aira, duduk di sudut ruangan sambil menangis.

Ia menatap lantai.

Mengingat semua kata-kata yang pernah ia lontarkan.

Semua prasangka.

Lihat selengkapnya