Lima tahun berlalu sejak kepergian Bapak Wirawan Santoso.
Waktu memang tidak pernah benar-benar menghapus kehilangan, tetapi ia mengajarkan manusia cara hidup berdampingan dengannya.
Yayasan Pendidikan Bapak Wirawan Santoso kini telah berkembang pesat.
Ratusan anak menerima beasiswa setiap tahun.
Banyak di antara mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, anak yatim, dan korban putus sekolah.
Di setiap sudut kantor yayasan, foto Bapak Wirawan Santoso terpajang dengan senyum sederhana yang selalu mengingatkan Aira pada satu hal:
Bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar mati.
Di usia yang semakin matang, Aira tetap memimpin perusahaan sekaligus mengelola yayasan.
Raka kini menjadi seorang pengacara muda yang dikenal karena keberaniannya membela masyarakat kecil.
Sedangkan Arya telah menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan mengabdikan diri di daerah terpencil.
Keduanya tumbuh menjadi laki-laki yang dibanggakan.
Sesuatu yang dulu pernah diragukan oleh banyak orang.
Termasuk oleh ayah kandung mereka sendiri.
Suatu pagi, seorang notaris tua datang ke kantor yayasan.
Pria itu membawa sebuah kotak kayu kecil yang telah menguning dimakan usia.
"Apa ini?" tanya Aira.
Notaris itu tersenyum.
"Titipan almarhum Bapak Wirawan Santoso."
Aira terdiam.
"Titipan?"
"Beliau meminta saya menyerahkannya lima tahun setelah beliau wafat."
Jantung Aira berdegup lebih cepat.
Dengan tangan gemetar, ia menerima kotak tersebut.
Di bagian atas terdapat tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Untuk Aira. Dibuka ketika hatimu sudah tenang.
Air matanya langsung jatuh.
Lima tahun berlalu.
Namun melihat tulisan itu terasa seperti mendengar suara Bapak Wirawan Santoso kembali.
Malam harinya, Aira membuka kotak tersebut di ruang kerjanya.
Di dalamnya terdapat sebuah buku harian tua.
Beberapa foto.
Dan sebuah surat yang dilipat rapi.
Ia membuka surat itu perlahan.
Tulisan tangan Bapak Wirawan Santoso memenuhi halaman demi halaman.
"Aira,
Jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah cukup lama meninggalkan dunia.
Aku sengaja meminta surat ini diberikan lima tahun kemudian.
Karena aku tahu, saat itu luka kehilanganmu tidak lagi terlalu dalam."
Air mata Aira mulai membasahi kertas.
Ia melanjutkan membaca.
"Ada satu rahasia yang belum pernah kuceritakan kepadamu.
Dulu, sebelum aku mengenalmu, aku adalah orang yang sangat kesepian.
Aku memiliki anak-anak yang sukses, tetapi aku tidak memiliki rumah untuk pulang.
Aku memiliki keluarga, tetapi aku merasa sendirian."