Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #1

SENYUM PERAWAN TUA

Suara subuh baru saja reda saat lampu teras dipadamkan dari dalam. Arni keluar di depan rumah temaram itu sambil celingukan, tanpa suara, lalu berjalan agak sedikit membungkuk menuju area tanaman bunga di bawah pagar rumah setinggi dada. Ia segera memutar kepala keran dan menarik selang biru. Saat air keluar, Arni segera mengarahkannya ke beberapa tanaman. Pucuk-pucuk bunga itu bergoyang seperti anak-anak gembira menari di bawah deras hujan. Suara gemericik air jatuh di lantai, lalu mengalir kecil dari kaki dinding, melaju ke garasi berisi dua motor, meluncur ke luar lewat kolong pagar besi holo berlapis fiber hijau, melewati tumpukan bambu, kayu kaso, papan, serta sisa pasir dan batu hebel bekas proyek pengecoran dak dapur sekaligus pembangunan kamar baru Arini di lantai dua yang tinggal proses akhir, namun terhenti karena anggaran membengkak.

Saat beberapa jamaah lelaki salat subuh di komplek perumahan subsidi itu hendak melintasi depan rumahnya, tangan kiri Arni sedikit menarik kain daster di bagian paha, agar dia mudah berjongkok di dekat Anggrek Bulan kesayangannya, demi tidak terlihat tak berhijab oleh tetangga. Di sana, Arni perlahan menyirami pohon yang tumbuh dan berbunga ramai di dalam pot gerabah putih yang disangga dudukan jalinan besi kecil berkaki empat setinggi tumit.

Seperti anggrek itu, demikianlah Arni. Dia tumbuh dewasa, berbunga, dan tetap ditopang oleh cinta dan kasih sayang dua kaki ayah dan ibunya yang tak kenal lelah membesarkan Arni. Sesekali Arni menyentuh dedaunan basah, dan tersenyum saat menghirup aroma bunga kuyup. Kegiatan rutin subuh itu tak pernah Arni tinggal, baginya menyiram bunga adalah terapi mental, dari tajamnya taring mulut tetangga yang bertanya kapan Arni menikah di usia Arni yang menuju kepala empat.

Arni baru saja hendak bangun, saat mendadak lampu dinyalakan kembali dari dalam, dan pintu dibuka kasar oleh Umar yang muncul sambil langsung menempelkan bahu di dinding. Seketika Arni panik, segera jongkok kembali.

“Ayah! Kenapa dinyalain?” Arni terlihat kesal. “Matikan lagi!”

Tapi Umar seperti terkena sawan. Wajahnya panik, keringat terlihat di dahi, serta napasnya yang berebut keluar dan masuk. Dia sama sekali tak merespon perintah Arni, bola matanya sibuk ke atas dan ke bawah, mencari tanda-tanda pendukung kalau ia baru saja merasakan apa yang orang lain mungkin tidak rasakan.

“Ayah?” Arni mulai heran. “Ada apa sih?”

“Gempa!” Umar berpegangan dinding. “Kerasa nggak, Ni?”

Arni terdiam untuk merasakan sejenak. Sama sekali ia tak merasakan bumi bergoyang. Arni melihat Umar yang gelisah, sesekali menggosok matanya karena baru bangun tidur. Umar masih diam, matanya menatap Arni, meminta dukungan kalau omongannya tentang gempa itu benar. Tapi Arni belum merespon. 

“Masih kerasa kan?”

“Nggak ada.” Arni menarik napas. “Dari tadi nggak ada gempa, Yah.”

“Terasa benget, Arniii,” Umar membela diri.

“Nggak ada, Yah. Itu perasaan Ayah saja. Lagian kalau emang ada gempa, tetangga-tetangga pasti sudah pada teriak. Tuh lihat, sepi-sepi aja kan?”

Umar hanya bengong. Dia masih belum sepenuhnya percaya apa yang dia rasakan barusan hanya perasaannya saja. Jelas-jelas dia merasakan bumi goyang sejenak, dan dia berjalan agak sempoyongan keluar rumah. Belum reda rasa heran Umar, Yuni muncul dari dalam rumah sambil membawa boks plastik besar berisi risol dan pastel yang akan ia titipkan ke para tukang uduk langganannya.

“Bu, emang ada gempa? Kata Ayah...”

“Nggak ada. Ayah kamu aja itumah.”

“Tuh, Yah. Denger!”

“Masa sih?” Umar masih tak percaya.

“Arni, nanti pulang kerja, kamu mampir ke apotik ya. Kamu belikan obat vertigo buat Ayah. Berkali-kali disuruh beli sendiri, ayah kamu bandel. Udah jelas, dia sekarang punya vertigo, tapi gak mau diobati. Ribut sendiri kan jadinya.”

Lihat selengkapnya