Umar dan Yuni berlari kembali ke dalam, jatuh bangun karena sama-sama mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada Arni. Dua kali tubuh Umar terhempas ke dinding saat bersenggolan dengan tubuh kekar Yuni di lorong ruang tengah menuju dapur. Setibanya di dapur, hanya ada beberapa ember bekas adonan pasir dan semen teronggok di lantai. Umar dan Yuni mendongak, terlihat Arni masih berdiri di tepi tangga dekat daun pintu kamar barunya, mulutnya tersenyum penuh rasa bersalah, sementera Umar dan Yuni sibuk menenangkan kaget masing-masing.
“Maaf.” Yuni meringis.
“Bikin kaget Ayah saja kamu, Arni!”
“Sudah. Turun!”
“Iya, Bu.”
“Lagian mau kerja sempet-sempetnya naik ke atas!”
“Soalnya Dimas mau jemput. Jadi Arni nggak bawa motor.”
Umar ingin sekali marah, namun tak kuasa ia lontarkan. Baginya Arni sudah baik-baik saja jauh lebih dari cukup. Ia segera meminta Arni turun, lalu bergegas ke depan lagi karena sudah saatnya dia berangkat. Umar menuju motornya sambil membaca pesan WA dari teman kerjanya. Umar lalu memilih menelepon balik.
“Halo, rapat sudah dimulai?”
“Bentar lagi,” jawab rekan di seberang telepon. “Kamu dimana?”
“Bentar lagi nyampe.”
Umar matikan ponsel, kakinya cepat-cepat bergegas membuka pagar rumah. Saat dia sudah menaiki motor, mendadak ada notif aplikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Umar terdiam sejenak melihat informasi gempa tektonik di Selat Sunda.
Meski getarannya kecil dan sama sekali tak terasa di daerah tempat tinggalnya di Pamulang, tetap saja Umar segera mengeluarkan sapu tangan di saku, mengelap keningnya yang mendadak berkeringat, serta sibuk menarik napas karena di saat yang sama jantung Umar berdatak lebih cepat. Sejenak Umar didera ragu untuk berangkat kerja atau tetap berjaga di rumah. Bayang-bayang gempa besar, lalu kiamat yang datang mematikan, kembali membuat Umar sulit menggerakan tubuh. Dan ini terjadi berkali-kali setahun ini, tanpa sepengetahuan Yuni dan Arni.
Sementara itu, Yuni memilih menenangkan diri dengan caranya sendiri. Ia mendekati galon air isi ulang dari tetangga, mengambil air minum di gelas plastik, lalu menenggaknya sambil berdiri demi menghilangkan rasa panik barusan. Sesekali Yuni melirik tangga, melihat Arni melakukan panggilan video dengan Dimas. Rupanya Dimas sedang terjebak macet di jalan masuk menuju komplek perumahan Arni.
“Nggak apa-apa, Dim. Santai kok.”
Yuni melepas sendawa besar saat mendengar Arni menunjukkan suasana kamar baru pada calon suaminya. Dia mengarahkan ponselnya ke segala arah, seperti pekerjaanya selama ini sebagai marketing sebuah perumahan di kawasan elit Serpong. Kepada Dimas Arni mengatakan, kamar itu baru bisa selesai bulan depan. Saat mereka menikah nanti, kamar impian Arni itu sudah bisa dipakai untuk tidur. Arni terdengar bersemangat menjelaskan posisi jendela, luas total ruang, luas kamar mandi, tapi Yuni tak mendengar respon Dimas yang bersemangat seperti dahulu dia datang dengan gagah berani menyatakan keseriusannya pada Arni di depan Umar. Umar tidak mau Dimas datang hanya untuk berpacaran, apalagi hanya mempermainkan Arni yang sudah matang.