Sebuah becak lapuk melaju memasuki komplek saat bel sekolah terdengar meraung hingga gerbang perumahan. Seorang lelaki bertubuh pendek gempal, memakai kaos partai kalah pilkada, celana kolor pendek khas pemain sepak bola era Maradona, terus mengayuh dengan susah payah lantaran dua kakinya sama-sama tak bisa menjangkau jika pedal sedang berada di bawah. Sesekali dia harus memiringkan badan ke kanan dan ke kiri untuk bisa menjangkau pedal turun, agar satu kakinya bisa segera menginjak pedal satunya yang menyembul naik. Begitu saja terus.
“Minggir! Minggir!” Teriak Marno saat hendak menikung.
Para asisten rumah tangga yang sibuk menjemur baju, sigap melipat besi jemuran, karena yang sudah-sudah, Marno selalu menyenggol jemuran warga komplek hingga terjungkal. Meski demikian Marno tak mau disalahkan, karena baginya jalanan komplek adalah hak pengguna jalan, bukan pengguna jemuran. Maka, suara teriakan Marno pun seumpama amarah badai tornado yang harus segera direspon serius.
Saat para buruh tukang cuci rumah lain terbirit keluar rumah demi menggeser jemuran hingga mepet tembok rumah majikan, Marno melintas dengan gagah perkasa yang diselingi suara tersengal kehabisan oksigen. Di depannya adalah jalan panjang menuju rumah Umar yang berada tepat di ujung pertigaan tusuk sate. Dari tempatnya mengayuh, ada 21 rumah lagi yang harus ia lewati.
Sepanjang menuju target lokasi, banyak halangan dan rintangan yang harus Marno lewati, mulai dari rak jemuran, jalanan becek air cucian, mobil-mobil murah yang tak muat masuk garasi rumah, polisi tidur menukik, kabel wifi awut-awutan dan menjuntai, juga anjing terikat yang menggonggong, selebihnya adalah muatan becak sendiri yang membuat Marno kesulitan melihat jalanan di depan. Tapi Marno terus berusaha mengantar semua dus-dus berisi air mineral, minyak goreng, ragam tepung, kepada Yuni si penumpang setianya, yang sedang mencicil belanja untuk hajatan pernikahan Arni bulan depan.
Tibalah becak Marno tepat di depan rumah Umar.
“Nyuun! Nyunii, barang datang!” Teriak Marno.
Tapi teriakan itu langsung dibalas klakson. Marno geram karena melihat mobil hitam jenis Avanza lama, terus membunyikan klakson mengagetkan Marno yang berdiri tepat di moncong mobil. Sebagai orang lama, cicit jauh dari warga kampung yang dulunya pemilik lahan yang dibeli pengembang perumahan, Marno merasa tersinggung. Dia lalu ikut menyalakan klakson becaknya dengan cara menarik tali yang tergantung di dekat dudukan di antara dua pahanya. Sekali tarik, ujung tali di dekat rantai yang merupakan kaleng susu berisi ragam baut dan sekrup itu langsung menyalak seperti bebunyian pengusir burung di sawah. Suaranya berkelontrang gagah melawan klakson Avanza yang marah.
Di dalam mobil, Dimas geram karena dia siap berangkat ke rumah sakit membawa Arni bersama Umar dan Yuni. Yuni berusaha membuka jendela pintu untuk menjinakkan Marno, tapi Umar lebih dulu keluar setelah meminta Yuni memegangi tubuh Arni yang duduk di tengah.
“Minggir kampret!”
“Lho? PakUmang?”
“Minggir, Marnoo! Cepaat!”
“Lho, barangnya Bu Nyun gimana?”
“Minggir!”
Marno belum tahu apa masalah dan duduk perkara sebenarnya. Dia hanya tahu harus menyerahkan barang belanjaan kepada Yuni. Maka Marno pun tetap duduk di sadel becaknya. Alhasil, Umar langsung mendekati Marno sambil meraih pinggang abang becak bandel itu dengan pergelangan tangan Umar. Seketika pinggang Marno tersangkut keras, dan pantatnya langsung terlepas dari dudukan, tapi dua tangan Marno memilih menggantung di tangan Umar alih-alih terlempar ke aspal.
“Turun! Arni harus cepat ke rumah sakit!”
“Lho. Kenapa?”
Umar jengah melihat muka Marno yang santai bertanya di tengah kepanikan dirinya. Umar berbalik badan, lalu menarik bokong becak sekuat tenaga agar mobil Dimas bisa keluar, bertepatan dengan dua tetangga kanan dan kiri yang mulai keluar gerbang melihat kondisi.