Selepas asar, Arni terbaring jenuh di ruang perawatan sebuah bangsal tiga ranjang bertirai kain hijau pastel rumah sakit umum daerah. Tak ada siapa-siapa di sana, selain Yuni yang duduk di sampingnya dengan wajah lelah, dua mata sembap, bergo miring yang tak menutup semua rambut, serta wajah yang tidak bercahaya.
Sudah hampir satu bulan Arni menjalani perawatan kaki patah dan cedera tulang ekor yang penuh tangis dan sesal dari mulut Arni, selama itu pula dia tidak melihat Dimas, dan Umar hanya datang pada malam hari. Arni maklum karena ayahnya harus bekerja pada pagi hari, tanpa tahu ada banyak hal terjadi setelah ia masuk rumah sakit. Itulah yang membuat Yuni lebih banyak diam, ia tak semata meratapi dua kaki Arni yang terus digips hingga hari ini, tapi juga mengkhawatirkan hidup putri semata wayangnya itu di masa nanti.
Sementara itu, di teras depan sebuah masjid di tepi jalan yang ramai, Umar baru selesai salat dan sedang mengikat tali sepatu, lalu buru-buru memakai jaket bomber coklat yang sudah usang, untuk menutupi baju seragam kerja lengan pendek warna abu-abu miliknya. Sesaat kemudian, lelaki yang kepalanya kian dipenuhi uban itu tak beranjak dari duduknya. Ia bingung harus kemana selama menunggu waktu biasa dia pulang dari pabrik. Umar lalu merogoh celana dan mengeluarkan ponsel.
Jemari umar seperti bergerak sendiri, membuka kanal Youtube, dan muncullah tayangan-tayangan sesuai algoritma minat tontonan Umar. Ada banyak riwayat tontonan tentang tanda-tanda akhir zaman, perang nuklir besar-besaran, gempa-gempa besar terjadi, dan itu berhasil membuat Umar terpaku agak lama dengan napas tercekat, hingga akhirnya seorang pria dari dalam masjid mencolek bahunya.
“Pak Umar?”
Umar menoleh, juga menutup layar tontonan.
“Eh, Pak Farhan. Kok tadi gak lihat di dalem?”
“Saya di pojokan. Eh, Arni kapan boleh pulang?”
“Belum tahu. Nunggu perintah dokter. Ada aja musibahnya.”
Farhan, sang tetangga sebelah kanan rumah Umar, lalu duduk di sebelah Umar. Sementara Umar sendiri mulai tidak nyaman karena seharusnya tidak ada tetangga yang melihatnya di sana, di jam kerja.
“Yang sabar Pak.” Farhan menatap jalanan ramai, dan sesekali menoleh ke mobilnya yang diparkir di bahu jalan, bersebelahan dengan motor Umar. “Saya juga mohon maaf belum sempat jenguk Arni.”
“Nggak apa-apa, Pak. Saya malah terima kasih, Pak Farhan sama Ibu udah ikut jagain rumah saya selama saya di rumah sakit.”
“Iya sama-sama.. Soalnya kemarin-kemarin emang ada aja kegiatan keluarga. Si bungsu baru disunat, terus anak saya yang pertama kemarin minta saya sama istri ke Malaysia karena ada pertemuan dua keluarga.”
“O, sukurlah Rahman sudah punya calon. Arni malah kasihan, Pak. Calonnya ngilang. Gak nyangka saya juga sama si Dimas. Tega.”
Farhan tersenyum kecut, lalu dia menepuk-tepuk pundak Umar. Saat Umar melihat teman lamanya melintas dengan seragam kerja, Umar segera bangkit dan pamit pada Farhan. Umar hanya mengangguk dan tersenyum saat Farhan menutup pertemuan dengan informasi pengajian bapak-bapak komplek yang dulu mati kini mulai aktif lagi.
“Gabung, Pak. Takut keburu kiamat.” Farhan tersenyum.
Umar tak peduli dengan informasi itu. Dia segera menaiki motor, memakai helm, kaki kanannya menggojlek supra hingga mesin menyala, lalu melesat berbaur dengan para pegawai di jam pulang kerja, seperti yang ia lakukan sebelum manajemen pabrik kabel memecatnya sehari setelah ia tak masuk karena harus membawa Arni ke rumah sakit.
Sepanjang jalan, Umar memacu gas dan memainkan perseneling kaki, namun dia lebih banyak bermain dengan ingatan-ingatan. Dia heran mengapa masalah datang bertubi di hari tua dari segala arah. Dia merasa sudah menjadi manusia selayaknya; sebagai hamba dia masih salat dan sebisanya tak bermaksiat, sebagai kepala keluarga Umar juga merasa telah berjuang mencari uang. Tapi mengapa kini masalah datang dari Arni?
Dugh!
Belum selesai Umar mencari jawaban sendiri, dia kaget saat ban supra menumbuk bodi belakang sebuah mobil. Umar yang tak memegang uang, takut diminta ganti. Dia segera putar setang, menyalip mobil itu, melajukan supra sekencang-kencangnya. Ia tak peduli saat mobil jenis Honda Jazz kuning mulus itu terus mengklaksoni Umar.
Tiba di parkiran rumah sakit, Umar masih celingukan takut kalau pemilik mobil tadi nekat mengikutinya. Dia segera bergegas membuka helm tanpa melepas jaket, lalu segera menuju ruang rawat Arni. Kedatangan Umar disambut ekspresi bisu Yuni, hanya Arni yang langsung tersenyum lebar karena Arni sudah tidak sabar ingin bicara.
“Gimana, Yah? Udah berhasil ketemu Dimas?”