“Maaf, Pak!”
“Sudah telat!”
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi.
“Amppuun, Pak. Saya benar-bener nggak sengaja.”
“Kalau gak sengaja, kenapa kabur?? Hah!?”
Tangan kiri Kobir masih mencengkram kerah jaket Umar setelah telapak tangan kanannya baru saja beradu keras dengan pipi tetangganya.
“Ini tuh mobil baru istri saya! Mandang dong sama saya!”
Keributan itu membuat Farhan di dalam rumah keluar, bersamaan dengan tetangga lain yang juga mendekat. Mereka berusaha melerai dan melepas tangan Kobir di kerah baju Umar yang tak berdaya.
“Pak, jangan main tangan. Kita bicarakan baik-baik!”
“Diam kamu, Farhan!”
“Pak, jangan begitu,” ujar warga lain.
“Kalian gak usah ikut campurr!”
Farhan dengan cekatan memaksa Kobir melepaskan tangannya, dan usahanya berhasil. Seketika dia maju dan berdiri menjadi tameng di depan Umar dan Kobir. Warga segera menarik Kobir saat ia hendak maju menyingkirkan Farhan. Sementara itu, Marno si tukang becak yang bersiap bertugas ronda, segera merapat dan siap meredakan kerusuhan. Namun saat melihat yang mengamuk adalah Kobir, alih-alih membanting Kobir yang berbadan tinggi menjulang, Marno langsung memasang sikap netral, dengan perkataan yang bijak, tentram, dan agak bergetar takut.
“Pak Umang! Mending minta maaf!” Titah Marno gagah.
“Dari tadi sudah, Marno,” jawab Farhan.
“Oh begitu.”
Marno lalu menoleh ke Kobir yang masih membelototkan dua bola matanya yang agak merah berair, semakin membuat wajah gelap dengan dua pipi hitamnya kian mengintimidasi Marno yang jelas-jelas pernah merasakan tamparan keras Kobir, hingga telinga Marno berdenging tiga hari dua malam dan baru sembuh setelah Marno meminum obat jenis Puyer Bintang Meredup dari warung Madura.
“Pak Kobir, gimana seandainya.. jika berkenan itunya...”
“Apa kamu!?” Kobir mengangkat tangan besinya!
“Tidak jadi, Pak.” Marno mundur seketika.
Nyali Marno telah tewas, beruntung istri Farhan dan emak-emak yang lain langsung membuat formasi merangsek; sebagian menarik Umar agar masuk ke rumahnya, yang lain menggebrak pantat mobil baru Yanti agar maju ke halaman rumah sendiri, selebihnya berputar-putar di sekeliling Kobir bagai koloni tawon betina di musim menstruasi.
Kobir langsung masuk mobil, menggenjot gas hingga mengeluarkan suara menderu di tengah kerumunan, lalu melajukan si kuning kinclong itu ke halamannya sendiri yang hanya lima langkah kaki. Dia keluar mobil lagi sambil mulutnya tak henti memaki Umar, sementara Yanti terus menjadi kompor dari balik pagar. Kobir diminta masuk oleh warga, namun dia hanya mondar-mandir karena warga terus menghalau setiap kali dia hendak maju menghampiri Umar.
Sementara itu, Arni gelisah saat Yuni sudah terkantuk-kantuk di lantai beralas tikar berbantal satu pak tisu baru, karena tak ada informasi dari Umar. Biasanya, Umar selalu memberi kabar kalau ia sudah tiba di rumah, tapi malam ini, di jam-jam biasa Umar telah tiba, tetap saja ponsel Yuni tak berbunyi. Arini gelisah, ia takut penyakit ayahnya kambuh saat mengendarai motor. Sekuat hati dia segera membuang jauh-jauh dugaan buruk itu karena yakin ayahnya tidak lupa meminum obat anti vertigo, apalagi Yuni telah berkali-kali meminta Umar segera meminum obat sesaat setelah makan malam nasi rames.
“Bu, ayah belum WA aja?”
Yuni bangkit dari rebahan, dan memeriksa Arni.
“Tidur. Ayah kamu pasti lupa ngasih kabar.”
“Nggak ngantuk, Bu. Arni juga bosen.”