Berbulan-bulan setelah Arni dirawat, pada satu hari yang cerah, seorang anak lelaki usia 8 tahun, memakai sarung, berkaos biru gambar Spiderman, mondar-mandir di depan pagar rumah Arni sambil memegangi sebuah buku cerita tipis berwarna bersampul keras. Matahari sudah meninggi sekira pukul 10, sehingg ia mulai menjadikan buku di tangannya sebagai kipas keringat. Matanya terus memandangi jalan panjang di depannya, menerobos sengkarut rak besi jemuran depan rumah warga, kabel wifi kendur menjuntai, polisi tidur berlapis, juga anjing warga komplek yang mulai lapar lagi.
“Lama banget, deh!” Keluhnya sambil terus melongokan kepala ke arah depan. “Katanya hari ini pulang. Awas aja kalau mama bohong!”
Wajahnya mulai lelah, namun tak peduli saat terdengar suara kasar roda gerbang didorong dari rumah sebelah kirinya. Kobir lalu muncul dari rumahnya dan bergegas masuk ke mobil yang sejak tadi sudah dipanaskan. Ia melaju, melewati anak itu dengan wajah sinis. Anak itu pun tak peduli dengan Kobir, karena sejak lama dia memendam mimpi agar bisa lekas besar, berbadan tinggi kekar, untuk bisa menghajar Kobir.
Tidak lama kemudian, Nisa muncul dari sebelah kanan, Rehan si bocah bersemangat itu, langsung menoleh dan memberondong mamanya dengan celoteh yang nyerocos karena ternyata Arni belum juga pulang hingga menjelang siang. Nisa hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anak bungsunya sangat berbeda dengan kakaknya yang kalem.
“Emangnya pulang dari rumah sakit itu gimana?”
“Ya, pulang. Tinggal pulang.”
“Nggak bisa gitu, Rey. Harus ngurus ini itu dulu.”
“Ini itu apa?”
Nisa menahan diri untuk tidak menjawab. Dia juga sibuk melongok ke arah depan, sesekali menoleh ke teras rumah Arni. Semuanya sudah rapi. Bersih. Subuh tadi Nisa sudah bersih-bersih rumah tetangganya itu karena Farhan mengabarkan Arni sudah bisa pulang. Itulah yang membuat Rehan ikut sibuk pagi ini, tidak mau sekolah, demi menunggu kedatangan sang induk kedua di hidup Reyhan ; Arni.
Tak lama, terlihat Umar di kejauhan mengendarai motor, menuju jalan lurus tepat ke gerbang rumah jalan tusuk sate, tempat Rehan dan Nisa sedang berdiri menanti. Rehan amat senang, namun setelah Umar mendekat, Rehan kembali menurunkan bahu karena tak ada Arni di jok belakang. Umar tersenyum melihat Nisa dan Rehan, lalu segera membuka gerbang rumah, sambil melirik Rehan yang sibuk memeriksa tas bawaan Umar yang penuh di motor, mengintip isi tas dari celah resleting rusak tas itu. Rehan perlahan tersenyum lebar dan dia berjingkrak riang gembira.
“Yes! Ini baju Kak Arni! Dia beneran pulang!”
Rehan memang sudah lama tak bertemu Arni. Bukan karena Arni sama sekali tidak pernah pulang dari rumah sakit, melainkan Umar dan Yuni sengaja tinggal di rumah singgah khusus pasien rawat jalan. Itu semua dari kebaikan teman-teman Arni, yang merasa kasihan karena rumah Arni dan rumah sakit jaraknya memakan waktu tidak sedikit. Itulah yang membuat Rehan kangen bukan main pada Arni, apalagi Umar pernah cerita kepada Farhan bahwa hari ini adalah kepulangan Arni sesungguhnya, karena Arni sudah lelah dan ikhlas berkaki pincang.
Umar sudah membuka penuh gerbang sambil menoleh ke Rehan. Tak terbayang nanti bagaimana reaksi Rehan saat tahu Arni yang sudah dianggap kakak sendiri, tiba-tiba tidak bisa lagi menemaninya bermain lari-lari seperti dahulu. Umar terdiam, berusaha menenangkan diri. Rehan mendekati Umar dan mengulang pendapatnya setelah melihat Umar membawa tas berisi baju Arni. Belum sempat Umar merespon, Nisa lebih dulu memblokade omongan Rehan.
“Tiap hari juga Pak Umar bawa baju kotor Kak Arni.”
“Yah.” Rehan kalah, ragu lagi. “Jadi hoax nih? Mamah dosa lho!”