Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #7

KURSI TERAS SAAT MALAM

Saat Marno datang menjenguk Arni selepas isya, Arni tetap di dalam kamar, rebahan di atas kasur tanpa ranjang, memandangi triplek langit-langit rumah yang membercak hitam akibat rembes air hujan, dan menolak tamu siapa pun yang hendak masuk. Arni mendengar Yuni menyambut Marno dan mereka sibuk berbincang di teras.

Mata Arni lalu tertumbuk pada kalender bergambar masjid dan kaligrafi di dekat pintu kamar. Dia baru sadar, sudah lama ia tak membalik kertasnya sehingga dia tak tahu tanggal berapa hari ini. Segera Arni bangun, lalu berjalan ke kursi roda di tepi kasur. Dengan susah payah, Arni berhasil mendekati kalender itu, mengambilnya sambil sedikit berdiri. Perlahan dia membalik satu persatu kertas yang memajang nama dua bulan masehi, membalik lagi dan lagi, hingga Arni sadar sudah hampir 9 bulan insiden itu berlalu. Selama itu pula, Dimas tak pernah memberi kabar. Pun saat ia berulangtahun sebulan lalu.

“Kamu yakin nikah sama aku?”

“Yakin, Arni. Yakin banget.”

Terdengar kembali omongan Dimas beberapa tahun lalu, saat menyatakan keseriusannya menikahi Arni di sebuah kantor pemasaran sebuah perumahan, tempat Arni dan Dimas bekerja. Dimas memanfaatkan jam makan siang yang sepi, untuk bisa bicara berdua dengan Arni karena ia hafal betul Arni tidak pernah ke kantin karena ia selalu membawa bekal makanan dari ibunya.

“Kenapa sama aku? Kita beda tiga tahun. Kata orang aku udah tua.”

“Nggaklah.”

“Itu fakta, Dimas.”

“Iya, tapi aku serius!”

Sebenarnya ini kabar bahagia. Tapi Arni perlahan meletakkan sendok di boks makanan biru, berhenti mengunyah, lalu pandangannya tak tahu harus diarahkan kemana. Arni hanya ingat, banyak orang menyebutnya perawan tua karena di usianya yang dua tahun lagi mencapai angka kepala empat, Arni sama sekali tak melihat tanda-tanda jodoh serius yang datang. Memang selama ini banyak kumbang yang datang, tapi Arni tak pernah satu hati. Tapi kali ini Arni melihat Dimas memang serius. Itu terlihat dari usaha Dimas mendekati Arni.

Di mata Arni, Dimas bukan saja juniornya di pondok, tapi teman yang asyik selama Arni bekerja di tempat itu. Banyak sekali ilmu yang dibagikan Dimas yang memang lebih lama menggeluti dunia marketing, dibanding Arni yang sempat menjadi guru TPA di komplek namun berhenti karena terus dipepet almarhum ustadz tua yang terus membujuknya menjadi istri muda.

Arni masih di kursi roda, memegang kalender, menarik napas sembari matanya tertuju pada cincin tunangan di jari kirinya. Teringat kembali saat hari lamaran itu. Mama dan tiga kakak perempuan Dimas datang membawa anak-anak mereka. Dari tatapan mereka pada tata rias Arni yang gagal membuatnya terlihat muda, pada tembok rumah yang mengelupas, pendingin ruangan yang berupa kipas angin berisik, serta tak ada spot menarik untuk berfoto di area rumah itu, membuat Arni mengendus aroma sambutan meragukan. Di antara mereka, hanya Dimas yang terlihat berbahagia hari itu, dan Arni pun harus tetap tersenyum sebagai bentuk penghargaan tuan rumah kepada niat baik Dimas.

Mengingat itu, napas Arni mendadak lebih cepat. Arni tak meletakkan kertas kalender di dinding seperti semula, tapi perlahan menggulung kalender itu, lalu melemparnya ke pintu. Prakh! 

“Pembohong kamu, Dimas!”

Arni melepas cincin lamaran, lalu segera melemparnya ke sembarang arah. Arni pesta airmata. Napasnya naik turun, tangisnya sesenggukan. Arni menjambak bergo, menariknya cepat hingga copot, sehingga tampak rambut hitam Arni yang agak bergelombang, namun awut-awutan. Kepala Arni kembali penuh dengan Dimas. Setega itu Dimas pergi menghilang, yang konon setelah mengantar Arni ke rumah sakit di pagi yang nahas itu. Hingga hari ini, Dimas tak datang, tak menelepon meski ponsel Arni sudah diperbaiki. Arni menangis keras. Suaranya membuat Marno langsung menoleh ke dalam rumah.

“Siapa itu?” Marno celingukan. “Arni Bu Yung, nangis itu.”

Yuni menoleh dan terpaksa bangun untuk memeriksa kamar Arni, meski pun dia masih belum selesai menggali informasi dari Marno, tentang siapa-siapa saja yang menjadi pedagang kue dan merebut warung-warung sarapan langganan Yuni. Marno menjelaskan kondisinya berat, karena saingan Yuni sudah bermunculan dari empat penjuru mata angin, memanfaatkan kondisi Yuni yang libur karena merawat Arni.

Lihat selengkapnya