Umar sudah berdiri di depan kamar Arni, tepat saat suara speaker pengajian bapak-bapak di masjid elah berhenti yang menandakan pukul sebelas malam. Sungguh bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan kondisi Umar yang sudah lelah. Tapi Arni bukanlah Arni yang dulu. Ia kini tak bisa diabaikan begitu saja. Umar sadar, Arni sedang berjuang melawan nasib fisiknya yang kini pincang, dan nasib hatinya yang luka pasca gagal menikah. Umar telah khatam membayangkan itu. Tak mudah. Sungguh tidak mudah, sehingga Umar butuh ancang-ancang mengembuskan napas beberapa kali sebelum memutar handle pintu.
Umar terkejut saat melihat kamar berantakan. Kalender tergeletak di lantai, berdampingan dengan beberapa wadah bedak, lipstik, dan lain-lain di bawah meja rias yang terpental ke segala arah. Sementara bergo Arni tergeletak di lantai, di dekat kasur yang seprainya awut-awutan. Umar mencoba tenang meski dia terguncang, karena Arni tak pernah melakukan semua ini selama hidupnya. Umar perlahan mendekati Arni.
“Belum tidur, Ni?”
Umar melihat Arni masih duduk di kursi roda, menghadap jendela kamar yang menghadap teras. Tubuhnya tegak, tapi membeku. Bahkan pompa napasnya pun tak terlihat menaikturunkan bahunya. Umar berjalan pelan, lalu berdiri di dekat Arni, tak berani menyentuh apa pun. Umar menyeret kursi rias kecil tanpa sandaran, hati-hati ia duduk.
“Sudah malam, Nak.” Umar waspada memilih kata. “Tidur.”
“Arni nggak bisa tidur,” ujar Arni tanpa menoleh.
“Kenapa lagi?”
Sejenak tak ada suara, selain gonggong anjing di blok depan, suara wajan gerobak tukang nasi goreng dipukul keras yang bersaing dengan suara toa tukang tahu bulat digoreng dadakan di atas mobil losbak kecil.
“Arni butuh kejujuran.”
Degh. Umar kembali tercekat mendengar kalimat Arni yang langsung menyerang. Umar segera siaga, karena dia punya tiga kebohongan yang sengaja disembunyikan dari Arni : Dimas tak pernah ke luar negeri tapi menolak menikahi Arni yang cacat, Umar yang sudah dipecat di hari Arni masuk rumah sakit, dan aktivitas kerja palsu yang terus menguras saldo tabungan serta tenaga dan pikiran Umar. Umar tidak tahu, Arni hendak menyerang ke arah kebohongan yang mana dulu. Umar pasrah, dibanding Yuni, Arni jauh lebih jernih melihat gerak-gerik.
Kembali tak ada suara. Hanya tarikan napas Umar yang berat, serta isak tangis Arni, yang memantul-mantul di dinding kamarnya. Sesekali terdengar sayup-sayup tawa laki-laki dan perempuan dari balik dinding kamar yang menyatu dengan entah dinding ruang apa di rumah Kobir.
“Ayah, ceritakan semua tentang Dimas.”
“Arni, apalagi?”
“Cerita yang sebenarnya.”
Umar mau bicara, tapi Arni menoleh, segera memutar roda kursi, dan kini ia telah berhadapan dengan ayahnya sendiri. Arni lalu diam, Umar tahu Arni sedang menunggu. Tapi Umar seketika dihadang ragu.
“Beberapa teman Arni kirim WA, bilang dia lihat Dimas!”
Umar kaget.
“Dimas juga terpantau di akun sosmed kakaknya! Dimas boleh menghindar. Ayah juga boleh terus menutupi! Tapi Arni bukan anak kecil! Arni tahu kemarin ayah mungkin tidak tega cerita karena kondisi Arni yang sakit. Tapi sekarang Arni sudah pulang! Kaki Arni pincang! Mau tunggu kaki Arni buntung agar Ayah bicara yang sebenarnya!?”