ANOMALI RUMAH ARNI
Rehan meloncati pagar rumah Arni yang sepi selama seminggu ini. Ia tak lagi risih pasca kelaminnya disunat dokter. Ia hanya merasa aneh karena dua motor milik Umar dan Arni ada di garasi, namun tak pernah ada yang memanaskan mesinnya setiap pagi. Padahal dari rumahnya yang menempel dengan rumah Arni, Rehan masih bisa mendengar ada suara orang batuk, suara air keran, tapi tak ada orang berbincang. Orang-orang hanya melirik rumah Arni yang sepi selama berhari-hari, tapi hanya Rehan yang nekat melakukan aksinya saat jalanan depan rumah sepi.
Kecurigaan Rehan memang tak salah. Di dalam rumah tipe 21 meter di atas tanah seluas 60 meter itu, sejatinya tak pantas bagi penghuninya untuk saling mendiamkan satu sama lain. Ruang gerak mereka terbatas, tapi Umar, Yuni, dan Arni tetap memaksa untuk saling tak bicara satu sama lain. Mereka mengurung diri di ruangannya masing-masing. Arni di kamarnya, Yuni di kamarnya, dan Umar meratapi diri di kamar baru Arni di lantai dua yang sejatinya sangat ia benci.
Demi menjaga privasi anak dan calon menantunya nanti, Umar saat itu rela menarik tabungannya agar uang Arni tetap utuh. Tapi kamar itu telah menjadi awal petaka lahir dan batin dalam hidup Arni. Selama hampir satu tahun, pembangunan kamar yang tinggal tahap akhir itu tak pernah terlanjutkan. Konsentrasi dan pendanaan Umar habis untuk Arni. Ingin rasanya Umar mengambil godam dan merobohkan kamar pembawa petaka itu hingga rata, tapi Umar tahu itu melukai Arni.
Arni di kamar merenungi semua kejadian di rumah orangtuanya. Makanan yang dikirim Yuni di bawah pintu luar, tak pernah benar-benar ia sentuh dan makan. Ia hanya memakan sedikit demi menghormati perhatian ibunya yang hanya peduli pada Arni. Arni jarang sekali melihat perang dingin selama ini di rumahnya. Selama ini, Arni melihat ayah dan ibunya selalu rukun, sama-sama bekerja dengan caranya sendiri. Tapi belakang Arni yang sesekali keluar untuk mencoba menarik komunikasi, hanya menunjukan anomali yang ganjil. Umar mulai memasak apa yang ada di kulkas untuk makan diri sendiri, mencuci bekasnya, lalu kembali naik ke lantai dua. Sementara Yuni pun tak kalah sengit melakukan perlawanan. Ia tak lagi memanggil Umar saat keran patah dan gas melon habis. Arni merasa rumah tangga orang tuanya terancam kiamat.
Di sinilah Arni ingat omongan Rehan di masa lalu, yang sering bercerita setiap kali mereka lari pagi di akhir pekan. Bahkan Rehan selalu teriak memanggil Arni di sabtu dan minggu pagi meski Arni sudah bekerja dan punya agenda sendiri. Kala itu, Rehan mengisahkan kesaksiannya yang ia lihat di depan mata. Umar dan Arni sering ribut pas Arni berangkat kerja pagi buta. Rehan sering mengintip dari celah gerbang saat ia hendak berangkat ke sekolah, sebelum akhirnya Nisa keluar dan menyeret Rehan agar masuk ke mobil sambil menasihati tentang dosa mengintip urusan orang. Saat itu Arni abai pada cerita Rehan. Bahkan dia tak peduli meski Rehan terus memastikan.
“Beneran, Kak!”
“Ya udah biarin aja. Namanya juga suami istri.”
“Tapi Papa sama Mama nggak gitu.”
“Kamu nggak tau aja kali.”
“Kalau nggak percaya, tanya sama Mama. Mama juga pernah liat Pak Umar sana Bu Yuni ribut, tapi emang lagi nggak ada Kak Arni!”