Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #10

AIR LUKA

AIR LUKA

     

Arni masih di gendongan Umar saat ia melihat atap rumahnya tetap tegak meski terhimpit rumah dua tetangga yang tinggi menjulang. Atapnya masih bawaan pengembang, hanya pada bagian garasi saja yang sudah ditambah atap asbes dengan rangka baja ringan. Semuanya diam. Tak ada yang bergerak, bahkan bunga-bunga pun tak ada yang bergoyang. Arni sama sekali tidak melihat tanda-tanda gempa. Bahkan tanda-tanda biang kerok kegaduhan di rumah itu juga tidak ada. Rehan telah pulang ke rumah, masuk kamar, dan merasa bersalah.  

Sementara Umar sejak tadi sibuk celingukan, memastikan kalau apa yang ia lakukan terhadap Arni adalah beralasan dan demi keselamatan. Namun dia tidak melihat semua gejalanya. Orang-orang lewat biasa saja, tak ada yang terlihat panik atau bahkan berteriak-teriak sebagaimana jika gempa datang menyerang. Umar perlahan kehabisan tenaga, tubuh Arni pun pelan-pelan melorot dari gendongan dua tangannya.

“Nggak ada gempa, Yah.”

“Si Rehan bener-bener ya!”

Perlahan Umar menurunkan tubuh Arni. Umar jatuh terkulai akibat kehabisan tenaga. Umar baru sadar betapa dia punya kekuatan luar biasa saat menggendong Arni dari dalam kamar hingga ke halaman. Namun saat ia sadar ini semua ulah Rehan, Umar langsung kehabisan tenaga. Dua tangan kekarnya terasa kram, dua kakinya mulai lemas. Sementara Arni beridiri dengan bertumpu di atas kaki kiri. Kaki kanan Arni tetap lurus dan tidak bisa ditekuk.

Arni segera berusaha berjalan masuk ke dalam rumah saat ia melihat Yuni hanya melongok keluar dengan kepala menggeleng-geleng. Arni berjalan dengan susah payah. Saat kaki kiri maju, maka tumpuan tubuh Arni adalah kaki kanannya yang rapuh. Cepat Arni mengganti kaki kiri menjadi tumpuan, dan kaki kanan maju dengan cara yang ganjil. Kaki itu kaku saat maju ke depan sehingga punggung telapak kakinya seolah seperti pesilat yang sedang mengait kaki lawan di hadapan. Dan semua itu terlihat jelas oleh Yanti dan Kobir suaminya yang diam-diam mengintai dari roster teras rumah mereka. Keduanya menahan tawa melihat Arni berjalan bagai hendak menyabet kaki siapa saja di depannya. “Ibuu!” Arni terus berjalan sambil berteriak.

Arni berharap Yuni keluar dan membantunya masuk. Namun itu tak pernah ada, pun saat Arni sudah tiba di teras. Arni menyempatkan duduk di kursi bambu dan mengatur napas, seperti Umar yang masih menenangkan dengkulnya yang gemetar dan serangan kram di tangan. Di sini Arni masih memanggil ibunya, sambil matanya melihat ke arah rumah Rehan. Anak itu sepertinya tahu telah membuat ulah yang membuat repot Arni dan Umar. Arni yakin Umar masuk rumah dan sembunyi. Arni menarik napas, agar reda kekesalannya pada Rehan.

Arni baru saja hendak bangun saat pintu terbuka. Arni menoleh dan matanya langsung terbuka agak lebar saat melihat Yuni membawa tas besar dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.

“Ibu mau kemana?”

“Kamu di sini saja dulu.”

“Iya jawab dulu. Ibu mau kemana?”

“Ibu capek di sini. Ibu mau ke rumah nenek.”

Lihat selengkapnya