Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #11

SENYUM YANG TAK TERHENTIKAN

SENYUM YANG TAK TERHENTIKAN

 Umar menuntun tangan Arni yang basah dan berkeringat. Setelah terus menangis di depan rumah warga blok depan, Arni perlahan menuruti tarikan tangan Ayahnya yang mengajaknya pulang. Tapi Umar mendadak tercekat, tak kuasa melanjutkan langkah, saat satu persatu tetangga semakin bertambah yang keluar rumah karena mendengar teriakan Arni. Selanjutnya mereka sibuk menonton  Arni yang sekarang berjalan pincang.

Umar tak mau mereka terlalu banyak bertanya dengan cara berjalan Arni yang sudah berubah. Seketika Umar memilih mendekati Arni, lalu perlahan berjongkok. Umar mendongak, menatap wajah Arni, memohon agar ia mau naik ke punggung Umar. Namun Arni hanya diam.

“Arni tidak apa-apa, Yah. Biar mereka lihat.”

“Arni..” Umar didera ragu.

“Ayo, jalan. Pegangin Arni, Yah.”

Arni mulai mengayunkan langkah kaki kanannya yang terayun lebar ke kanan sebelum menapak jalan di depan kaki kirinya. Kaki kiri segera melaju, dan dua kaki itu terus bahu membahu menyelesaikan tugasnya agar segera tiba di rumah dengan gaya dan langkah berbeda. Umar berusaha tersenyum saat Arni menyapa satu persatu tetangga, dan dia tak lagi kaget saat anjing itu kembali menggongong ke arahnya.

Sepanjang jalan lurus panjang yang langsung menusuk gerbang rumahnya, Arni mulai bicara bersamaan dengan napasnya yang tersengal akibat jalannya yang membuat tubuhnya terguncang naik turun. Hal itu membuat Umar perlahan merasa lega karena Arni memang sudah dewasa, sudah layak menjadi orang tua, yang ingin mendamaikan ayah dan ibunya yang memasuki fase awal renta dan kekanak-kanakan.

“Kenapa Ayah gak susul Ibu?”

“Nanti Ayah susul.”

“Memangnya sering berantem kayak gini kalau gak ada Arni?”

“Nggak sering juga.”

“Ayah sayang ibu nggak?”

Umar menghela napas. “Ibu baik, kok.”

“Kenapa Ayah tidak kerja lagi?”

Sampai di pertanyaan ini, Umar terhenti melangkah. Menarik napas, lalu dia berjalan sambil melontarkan pandangan ke segala arah. Arni tahu ayahnya sedang mencari jawaban paling bijak meski di mata Yuni tidak pernah ada satu kata bijak di dunia ini, jika keluar dari mulut pengangguran. Arni setia menunggu jawaban. Tapi Umar memilih untuk melangkah kembali, menjawab sapa tetangga, hingga mereka tiba di gerbang rumah disambut Nisa yang memegangi tangan Rehan.

Lihat selengkapnya