Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #12

PEREMPUAN ASING DI RUMAH ARNI

PEREMPUAN ASING DI RUMAH ARNI

 

Yuni duduk di samping Arni yang sedang tercenung di teras, memandangi pohon-pohon bunga miliknya yang sebagian meranggas. Pohon-pohon itu layu meski Arni tetap berusaha menyiraminya dengan langkah susah payah. Arni rela jika anggrek kesayangannya di pot gerabah putih itu tak lagi terselamatkan, namun Arni tak bisa menerima jika kehambaran rumah tangga orang tuanya selama ini, harus ditambah kehadiran lelaki asing yang datang di saat kondisi yang tidak tepat.

Sudah tiga hari Arni duduk di sana, dan baru sore ini dia bisa bertahan tidak meninggalkan Yuni yang mendekat. Yuni lega karena sepertinya Arni sudah mulai membuka diri untuk menerima penjelasan. Arni tak menoleh saat Yuni memegang tangannya yang agak tirus. Bahkan Arni juga membiarkan satu tangan Yuni memegang bahu Arni. Sudah hampir satu bulan tangan itu tak banyak menyentuh tubuh Arni, selain menaruh piring makanan di depan kamar Arni.

“Jadi Ayah kenal sama orang itu?”

Yuni kaget karena Arni langsung membuka ke inti masalah. Dia tak menyangka Umar ternyata lebih dulu membuka siapa Herpendi, lelaki yang datang menemui Yuni beberapa hari lalu. Ini membuat Yuni harus lebih cepat menjelaskan karena dia takut Umar menceritakan rahasia lamanya.

“Ayah kamu bicara apa saja soal Mas Her?”

“Tidak banyak. Ayah Cuma bilang dia masa lalu Ibu.”

“Itu doang?”

“Iya. Ibu sudah tidak percaya sama Arni?”

“Arni. Udah dong. Kita bicara baik-baik. Ibu mau jelasin.”

“Arni kira ibu emang nggak bisa bicara baik-baik. Ternyata bisa.”

“Maksud kamu apa, sih?” Yuni agak terpancing.

“Soal lelaki itu ibu ngajak Yuni bicara, tapi soal Ayah, ibu sama sekali tak mau membahasnya. Kenapa sih harus kayak gini?”

Yuni menarik napas, tubuhnya yang semula miring menghadap Arni, kini ikut menghadap halaman seperti yang Arni lakukan. Anak dan Ibu itu sama-sama terdiam menghadap arah yang sama namun mengharap hal yang berbeda. Ada rasa bahagia saat Yuni bertemu dengan Herpendi, tapi ada rasa takut pada diri Arni. Terlebih cara Herpendi menyentuh tangan dan kepala Ibunya sungguh membuat Arni gelisah hingga beberapa malam. Arni ingin sekali meminta Ibunya jujur, namun Yuni lebih dulu bicara setelah menarik dan mengembuskan napas.  

“Ibu nggak bisa berharap lagi dari Ayah kamu.”

“Tapi jangan berharap dari lelaki lain juga, Bu...”

“Bisa diem dulu nggak, sih, Ni. Ibu belum selesai.”

Yuni melihat Arni sedikit tersentak. Ada rasa sesal di diri Yuni karena dia terpaksa memotong omongan Arni. Arni mengangguk pelan, sebagai tanda dia siap mendengar semuanya. Tanpa saling menoleh, Yuni bercerita Umar sepertinya sudah tidak sanggup berjuang mencari uang di luar rumah. Yuni maklum dia punya sakit vertigo yang membuat selalu gelisah jika penyakit itu kambuh saat Umar membawa motor. Tapi lebih dari itu, Umar sepertinya terlalu terobsesi dengan tayangan tanda-tanda kiamat, gempa besar, perang akhir dunia.

“Dari dulu Ayah kamu tidur larut malam, begadang menonton tayangan-tayangan yang membuatnya tak bisa tidur. Padahal dia harus kerja. Dokter sudah melarang kebiasaan itu, tapi Ayah kamu keras kepala. Ibu sudah lelah bicara sama dia.”

“Ya. Arni juga pernah bicara sama Ayah soal itu.”

“Terus, gimana menurut kamu?”

Arni menghela napas, berusaha tetap imbang saat membicarakan Umar di hadapan Yuni. Dan benar saja. Saat Arni mengatakan kalau Umar bukannya tidak mau kerja, tapi ingin mencari penghasilan tanpa meninggalkan rumah dan ibadah.

“Tapi kata Ayah dia nunggu ada modal.”

“Alasan dia saja itu-mah, Ni.”

Lihat selengkapnya