LEPASNYA HIJAB IBU
Hari itu, Arni masih kelas empat sekolah dasar negeri. Dia menuju pulang ke rumah bersama teman-temannya dengan kondisi bergo putih diselempangkan di bahu. Wajah Arni sangat berkeringat, beberapa helai rambut menempel di dekat bibir, dan dia sibuk bercanda sembari mengipasi wajah dengan telapak tangan kecilnya. Beberapa meter lagi tiba di depan rumah, Arni kaget karena mendapati Yuni yang menatap tajam ke arah dirinya. Arni melihat ibunya memakai daster lengan panjang dan bergo kecil yang tidak sempurna menutupi dada. Yuni lalu menghambur mendekati Arni sembari membawa gagang sapu.
“Ibu pasti marah!”
“Yaah. Kita kena marah juga dong.”
“Gimana nih?”
Arni tidak menjawab. Kondisi sedang genting. Ia lekas menyambar bergo di bahu, tapi malah tersangkut di pengait yang ada di tas punggung. Semakin Yuni mendekat, Arni kian panik dan meminta dua temannya membantunya. Arni marah meminta agar temannya cepat menyelesaikan tugasnya, karena dia tahu Yuni sangat tidak suka melihat anaknya membuka hijab.
Tapi Arni telat karena Yuni sudah di dekatnya dan langsung mengacungkan gagang sapu ke atas kepala Arni dengan wajah garang dan mata mendelik. Arni memegangi kepalanya, tapi gagang sapu itu tidak pernah benar-benar menghantam ubun-ubunnya. Dia hanya melihat Yuni yang menatap tajam ke arahnya, serta dua teman Arni yang belingsatan kabur karena takut kena hantam sapu.
Yuni tak banyak bicara. Dia segera menyeret Arni pulang, dan sepanjang jalan itu Yuni bicara tentang harkat dan martabat perempuan yang harus Arni jaga. Semua itu terekam jelas di ingatan Arni hingga saat ini. Maka Arni hanya bisa tercenung lama memikirkan mengapa ibunya dengan mudah melepas hijab setelah bertahun-tahun lamanya ia jaga. Arni merasa, ini adalah gilirannya untuk mengembalikan agar ibunya kembali berhijab, mumpung Yuni terlihat belum nyaman dengan cara berpakaiannya sendiri.
Tapi mendadak langkahnya tetap di tempat saat seseorang datang, bertepatan dengan Umar yang juga keluar rumah sambil membawa kunci motor dan surat-suratnya. Umar yang semula garang di depan Yuni, mendadak langsung mengulas senyum kepada tamunya tersebut. Bahkan ia segera meminta tamunya duduk.
“Tidak usah, Pak Umar. Unitnya yang ini, Pak?” tanya pemuda gempal sambil menunjuk dua sepeda motor di garasi.
“Iya itu. Punya saya.”
“Wah, pasti banyak kenangannya nih?”
“Lumayan.” Umar tersenyum getir.
“Ya udah, Pak,” dia mengeluarkan amplop. “Hitung dulu.”
“Tidak usah. Saya percaya. Ini kunci dan surat-suratnya.”
Terbelalak mata Arni melihat pemandangan yang baru ia pahami itu. Rupanya sang Ayah telah menjual motor kesayangannya, yang selama ini menemani Umar bekerja. Tapi motor itu di mata Arni bukan semata kendaraan kebanyakan, tapi juga saksi mata keharmonisan keluarga mereka. Telah berkali-kali sabtu dan minggu, Arni kecil sering duduk di depan, atau sesekali diapit ayah dan ibunya di jok belakang, melintasi jalanan, mendatangi lokasi-lokasi hiburan atau pertokoan sekitar komplek.
Motor bebek model gojlek itu adalah simbol kebersamaan di rumah Arni. Arni berusaha bicara, namun baru saja dia membuka mulut, Umar lebih dulu menyibukan diri bicara dengan kliennya. Hingga pembeli itu pergi membawa motor ayahnya lengkap dengan surat-suratnya, Arni tetap tak bisa bicara saat Umar menyodorkan amplop berisi uang kepada Arni.