RASA YANG KEKAL
Saat matahari kian naik, Umar memboncengkan Arni di jok motor belakang motor matic Arni yang sudah lama teronggok. Arni yang biasa naik bergaya laki-laki, kini duduk di jok bergaya perempuan, karena satu kakinya susah diangkat. Dengan kaki satu terjulur agak menyamping, Arni diam di belakang Umar yang entah hendak membawanya kemana. Yang jelas, Umar tak begitu peduli dengan rumah yang tak dikunci. Dia terus melaju keluar komplek.
Sepanjang jalan komplek yang penuh polisi rebah, Umar dan Arni sama-sama diam, melintasi ibu-ibu yang sibuk menggunjing keluarga Umar sambil memilah milih sayuran abang gerobak. Di bawah komandi Yanti istri Kobir, mereka serius membicarakan Yuni yang sekarang melepas hijab dan berpakaian tidak pantas untuk ukuran perempuan yang mendekati usia nenek-nenek. Bahkan Yanti sibuk menunjukan video saat Yuni berjalan kaki tadi pagi.
“Kira-kira kenapa ya Bu Yuni? Kok bisa begitu?”
“Butuh biaya kali. Kan anak pincang parah!”
“Masa sih? Separah apa, Bu Yanti?”
“Beneran. Nih saya juga ada videonya.”
Sambil mengempit sayur kangkung di ketiak, Yanti segera membuka lagi galeri ponselnya. Dia lalu menunjukan saat Arni berjalan susah payah saat menyusul Yuni yang disangka hendak kabur dari rumah, padahal hanya ingin mendatangi teman-temannya untuk mencari kerja. Semua warga nampak merasa kasihan dengan kondisi kaki Arni yang ternyata benar sesuai omongan Yanti. Tapi semuanya diam, saat Nisa datang. Mereka tahu Nisa adalah pendukung setia keluarga Umar dan musuh bebuyutan Yanti.
Yanti segera bergegas pulang.
“Tunggu dulu, Bu! Bayar dulu!” Teriak tukang sayur.
“Lho, saya kan nggak beli apa-apa. Masih banyak sayur dari mall.”
“Nggak beli gimana. Itu kangkung dijepit di ketek!”
Yanti kaget bukan main saat menoleh ke ketiak sendiri Seikat kangkung nampak lepek dan lemas karena terlalu lama berada di sana, sementara Nisa memilih daging, ikan segar, dan sayuran bagus, sambil tersenyum dan menggeleng melihat kelakukan Yanti. Yanti segera terbirit setelah membayar kangkung, meninggalkan Nisa yang berdua saja dengan abang sayur di pinggir jalan. Nisa segera bergegas pulang dengan mudahnya, tapi tidak dengan Yuni.
Di sebuah ruangan khusus direktur, Yuni berdua saja dengan Herpendi yang duduk sangat dekat dengan mantan kekasihnya itu. Tak henti-henti Herpendi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca, haru biru karena dia bisa mengulang kembali kebersamaanya dengan Yuni setelah puluhan tahun merentang memisahkan mereka. Meski Yuni pun pernah melewati masa-masa itu, ada rasa canggung yang langsung meronta saat ia duduk sedemikian pendeknya jarak antara dua tumit Yuni dan Herpendi. Yuni ingin keluar, tapi tak bisa.