SEONGGOK MAKAM KECIL
Arni duduk tercenung di halaman belakang rumah neneknya, tempat Yuni tumbuh besar, yang kini dibiarkan kosong tak terawat. Sejak Arni dan Umar tiba, rumah ini langsung memancarkan aura khas rumah kosong yang tak bersahabat. Arni sempat ragu untuk masuk ke dalamnya, namun kehadiran Umar yang terlihat jelas ingin memberi tahu sesuatu, membuat Arni melawan keraguannya. Terakhir Arni ke sini sudah lima tahun lalu, saat itu Umar mengajak Dimas dan Arni datang ke sini dengan harapan sepasang kekasih yang hedak menikah itu mau merapihkan dan mengisinya. Tapi rupanya keluarga Dimas menolak keras.
Rumah nenek Arni berada di sebuah perkampungan sepi, berbatasan langsung dengan proyek pembangunan apartement yang pagar pembatasnya tepat menempel dengan dapur rumah orang tua Yuni. Rumah itu kini tak memiliki tetangga, karena sebagian lahan sudah dibeli dengan harga mahal. Hanya rumah nenek Arni yang tidak dibeli karena memang di luar area rencana pembangunan.
Jadilah rumah itu rumah tunggal yang dikelilingi lahan kosong milik warga lain. Di depan dan samping rumah, ada beberapa pohon mangga tinggi menjulang, juga pohon randu, serta sedikit rumpun di pinggir jalan. Jika malam tiba, jalanan di depan rumah sangat sepi, karena warga lebih memilih jalan baru yang disediakan sebuah pengembang perumahan di kampung sebelah. Alhasil, rumah itu semakin terkucil, dan selalu menarik perhatian orang-orang yang mudah percaya pada hal mistis.
Butuh 30 menit waktu tempuh dari komplek rumah Arni sekarang, sebelum akhirnya Arni melihat rumah ini tetap murung dan mulai digerayangi semak dan ilalang. Kata Umar, rumah ini seminggu sekali dibersihkan oleh Marno atas perintah Yuni. Berkali-kali pula Marno mengaku panas dingin setiap pulang bersih-bersih rumah, bahkan sempat pula ia mengaku kesurupan setelah membabat beberapa semak perdu yang menyesaki beberapa bagain dinding rumah. Sejak saat itu, orang-orang menyebut rumah ini angker. Umar menduga itu bagian ulah Marno yang terus menceritakan pengalamannya ke sembarang orang. Hal itu kemudian diperparah dengan beberapa video para konten kreator yang menjadikan tempat itu sebagai lokasi uji nyali. Yuni marah karena sejak itu dia semakin susah menjual rumah tersebut.
Arni ingat betul sebagian kisah rumah ini. Dahulu Yuni pun sama seperti Arni ; anak tunggal kesayangan kakek dan nenek Arni. Tapi setelah mereka wafat, Yuni tak banyak cerita mengapa rumah yang sejatinya tenang dari kebisingan ini dibiarkan dihuni lelembut yang belum terbukti kebenarannya. Tapi Yuni selalu saja tak mau membahas lebih jauh tentang kisah di balik rumah ini. Arni pun tak ingin tinggal di rumah ini, karena Dimas juga tak setuju. Belum lagi lokasinya yang malah tambah jauh dari tempat Arni bekerja dulu.
Beberapa menit lalu, saat Umar selesai memutar kunci dan membuka pintu sambil membaca-baca alfatihah dan do’a keselamatan, Arni pun mengucap salam sebagaimana yang ia ketahui dari buku-buku Islam. Bau apek dan lembab langsung menyerbu hidung Arni, sehingga beberapa kali Arni langsung bersin.
“Sebenarnya Ayah mau menunjukan apa?”