Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #16

HIDUP YANG DIKUBUR

HIDUP YANG DIKUBUR

 

Malam itu, di rumah Yuni hujan tak juga reda meski sudah satu jam berlalu. Kilatan cahaya petir masih terlihat menyala-nyala di kejauhan. Hujan hanya sesekali berhenti, lalu kembali membesar. Begitu saja terus, sehingga membuat tuan rumah merasa gelisah lantaran penghulu kampung yang diundang tidak bisa segera datang.

Sementara itu, Umar sudah didudukkan bersama dengan Yuni, perempuan asing yang terpaksa Umar terima sebagai calon istrinya. Beberapa hari lalu, Sakinah dan Jaya, orang tua Yuni, datang ke kontrakan Umar. Jaya adalah orang yang dulu mengajak Umar bekerja di pabrik roti hingga bisa mencari uang meski dia hidup sebatang kara karena semua keluarga Umar telah wafat di kampung. Sementara Sakinah istri Jaya sudah Umar anggap kakak sendiri.

“Saya mohon, Mar. Kamu mau ya?”

Umar didera ragu karena dia tahu betul siapa Yuni. Anak seorang karyawan pabrik roti kecil itu memiliki kesombongan yang besar. Yuni bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekertaris, berpakaian seksi, hingga menjalin kasih dengan bosnya yang bernama Herpendi. Sialnya, Umar pernah bercerita kalau dia beberapa kali melihat Herpendi jalan dengan perempuan berbeda.

Sejak saat itu, kian berbusa-busalah mulut Sakinah dan Jaya menasihati Yuni agar jangan melanjutkan hubungan dengan Herpendi. Apalagi jelas sekali, Herpendi hanya menginginkan Yuni, tanpa ingin mengenal siapa orang tua Yuni. Jika memang dia serius kepada Yuni, seharusnya dia mendatangi orang tua Yuni baik-baik. Tapi itu tak pernah terjadi. Hingga petaka itu datang menerpa.

Yuni sakit dan tidak masuk kerja. Setelah membawa ke klinik, dokternya menyarankan agar Yuni dites kehamilan. Bagai disambar petir, Jaya dan Sakinah murka saat Yuni terbukti berbadan dua. Mereka meminta pertanggungjawaban Herpendi, namun Herpendi tidak mau bertanggungjawab karena Yuni juga kedapatan sering jalan dengan beberapa laki-laki di kantor.

“Saya tidak terima!” Jaya mengamuk dan mondar-mandir di dalam rumah. “Dia harus bertanggung jawab!”

“Jujur, Yuni! Siapa pelakunya?” Sakinah ikut menyalak.

Sakinah duduk di samping Yuni yang tertunduk di sofa kecil dengan dua tangan sesekali menyeka air mata setelah habis-habisan dimaki Sang Ayah.

“Makanya jawab, Yunii!”

“Yuni nggak tahu!”

“Maksud kamu apa tidak tahu? Hah?”

“Yuni mabuk saat itu!”

Lihat selengkapnya