SISA TENAGA MENCINTA
Arni dan Umar sudah berdiri di halaman rumah kosong yang kini ia sebut taman abadi untuk Agni, saat azan zuhur berkumandang di kejauhan. Umar berjalan lebih dulu, berdiri menunggu di dekat motor Arni. Ia menoleh ke belakang, memandangi Arni yang masih mematung sembari tersenyum ke arah rumah beratap genting tanah merah yang sudah berlumut dan menghitam. Bubungan atapnya sudah tak sempurna lurus, terlihat sedikit melengkung ke bawah. Cepat atau lambat atapnya akan ambruk, mengubur jasad Agni kian dalam. Setelah tahu ada banyak kisah dramatis di rumah kampung ini, dua tangan Arni masih terus merekam apa-apa yang terlihat dengan ponselnya sebagai kenangan.
Ada banyak pikiran di kepala Arni sejak tadi. Tentang banyak hal yang kini ia harus urai satu persatu sendirian. Andai saja Agni masih hidup hingga hari ini, mungkin Arni tak sebingung ini menghadapi Ayah dan Ibunya. Dari kisah rumah ini yang Umar ungkap, Arni sadar betapa Umar bukan benar-benar sudah tak mau bekerja. Tapi dia lelah.
Umar juga bukan benar-benar takut terhadap kiamat, tapi dia hanya ingin bertobat atas kemalangan-kemalangannya selama ini yang ia anggap akibat dosa-dosa. Arni tahu Umar menahan diri di posisi yang tidak nyaman selama ini, sehingga ia melampiaskannya pada tontonan-tontonan yang membuatnya malah semakin gelisah. Vertigo Umar yang hilang pergi adalah tanda kepalanya lelah. Telah banyak energi cinta yang telah ia berikan kepada keluarga Yuni selama ini. Rela menikahi perempuan hamil yang sama sekali tak pernah mencintainya, adalah kehebatan paling dahsyat seorang Umar di mata Arni hari ini. Umar rela menjadi suami selayaknya, meski ia adalah tumbal dusta Jaya.
Yuni pun tetap pantas Arni kagumi, seburuk apa pun masa lalu yang ia miliki. Arni hari ini paham, mengapa Yuni begitu keras mengajarkan Arni agar menjaga kuat hijab sejak Arni kecil dan selalu menyebut harkat dan martabat wanita. Yuni rupanya tak sudi apa yang menimpanya di masa lalu, terjadi pula pada diri Arni, meski hari ini Yuni melepas hijab demi sebuah alasan yang bisa Arni pahami, namun tak akan pernah ia setujui. Arni ingin Yuni kembali berhijab. Arni juga mau Ayahnya turun dari kamar atas, kembali tidur di kamar semula bersama Yuni. Yuni sadar itu tugasnya saat ini.
Arni menarik napas, meyakinkan diri sikapnya kepada Yuni tak akan berubah sedikit pun meski ia kini tahu betapa masa lalu Yuni memang layak dikubur dalam-dalam. Kini Arni sadar betapa pondasi pernikahan dua orang tuanya di masa lalu amat rapuh, namun rahasia-rahasia kelam telah berhasil mereka pegang sangat kokoh.
“Ayo, Ni.”
Arni mendengar suara Umar memanggilnya. Dia lalu perlahan menoleh, dan berjalan pelan meninggalkan halaman tanah merah yang penuh sampah dedaunan. Umar hendak membantu Arni berjalan, tapi Arni mengibaskan tangan, demi membuktikan kalau dia baik-baik saja. Kepada Agni, Arni akan belajar tangguhnya jatuh bangun sendirian. Kepada Umar, Arni akan belajar tulusnya pengorbanan, dan kepada Yuni, Arni akan belajar arti penyesalan.
Arni sudah di dekat Umar, saat Umar menyodorkan kunci motor. Arni agak kaget, namun Umar tetap menunggu Arni mengambil kunci motornya.
“Kamu yang bawa.”
“Ayah saja. Arni masih risih.”
“Kepala Ayah seperti mau kambuh.”
Arni paham sekarang mengapa Umar memintanya mengemudikan motor. Sejak kaki Arni cacat, ia tak pernah lagi memiliki keberanainan menaiki motor yang dulu sering ia tunggangi menapaki jalan mencari rejeki. Ada rasa takut setelah keseimbangan tubuhnya bermasalah akibat pincang. Padahal jelas dia sangat bisa melajukannya karena motor miliknya berjenis matic. Bayang-bayang tentang kaki kanan yang akan terjulur kaku menyamping kadung membuatnya tak mau menaiki motor. Tapi Arni sadar, Umar sudah tidak muda lagi. Terlalu banyak tenaga cinta yang telah ia keluarkan demi keluarga. Arni berjanji dalam hati, ia akan mengakhiri ketakutan di dirinya pada banyak hal, sebagaimana ia telah belajar pada mendiang Sang Kakak.