Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #19

TANGGUL-TANGGUL EMOSI

TANGGUL-TANGGUL EMOSI

   

Umar duduk bersandar, kepalanya layu ke kiri tertahan besi rangka kaki atap becak. Tiga kancing atas bajunya terbuka, di kulit dada Umar yang merah dan berkerut, bolak-balik Arni mengusapkan telapak tangannya yang sudah diolesi minyak kayu putih kesukaan ayahnya. Sesekali Arni mendekatkan tutup botol sebesar ibu jari tangan itu ke hidung Sang Ayah, berharap napas Umar lega setelah menghirupnya. Arni sesekali meringis karena betis kanannya yang menjulur ke depan beradu dengan besi tepi pijakan kursi penumpang saat roda becak menggilas batu atau masuk lubang. Arni tak peduli. Ia sibuk meminta Marno di belakang agar menggenjot pedal becak sekuat ia bisa.

“Ayo cepat, Pak Marno!”

“Siaaafffghh!” Jawab Umar sembari mengejan.

Bersamaan dengan cairan keringatnya yang telah bersimbah raya di sekujur tubuhnya, hingga memicu aliran peluh di lembah sempit di belakang celana, Marno berteriak berharap jemuran-jemuran di jalanan minggir otomatis, kabel-kabel merangkak naik sendiri, lima gundukan polisi tidur bergegas amblas ke bumi, serta anjing warga yang tak lagi menyalak namun cekatan memandu perjalanan Marno. Namun itu semua hanya impian Marno, nyatanya Marno terkentut-kentut saat betis kakinya nyaris meledak saat menghadapi gundukan polisi tidur terakhir.

“Ayo, cepetan!” Arni gusar.

“Ii,” Umar bergetar menggenjot. “Yaghhh!”

Arni gelisah karena kondisi Umar semakin lemah. Ia tak lekas merespon saat Arni memanggil-manggilnya sembari menepuk-nepuk pipi Umar dengan punggung telapak tangan. Arni geram karena mimpinya yang dulu ingin membelikan mobil untuk Umar, ikut terjungkal di tangga sejak hari nahas itu. Berkali-kali dia berkomat-kamit, memohon kemudahan dan kesalamatan Sang Ayah.

Tiidd! Tiiddd! 

Sebuah mobil menyalak di belakang Marno yang bermuka merah basah oleh keringat. Marno yang kadung mengeluarkan otot-otot di leher dan kening, menoleh dan hendak memaki karena ketidaksabaran si pemilik mobil. Namun saat itu Rehan muncul dan teriak dari jendela mobil.

“Minggir, Mang Marno!”

“Sabar!”

“Ah, lama!”

Rehan menoleh ke Nisa sang sopir mobil, lalu meminta mamanya memotong jalan becak Marno. Mobil berhenti, Arni lega karena Rehan datang bawa mobil. Rehan loncat, sibuk membuka pintu tengah mobil, Nisa lekas ikut turun menyesuaikan sandaran kursi untuk Umar. Sambil membantu Umar masuk mobil dibantu Marno, Nisa meminta maaf karena ponsel Rehan masih ia sita karena terlalu banyak main games. Beruntung ada tetangga di depan rumah yang memberitahu Umar sesak napas dan dilarikan Arni dan Marno ke klinik. Akhirnya Nisa dan Rehan susul.

Arni menunjukkan sikap maklum di tengah kepanikan. Ia lekas masuk setelah Marno turun, duduk di samping Umar. Rehan di depan bersama Nisa. Mereka melaju kencang, menyisakan debu yang menempel di wajah dan leher Marno yang berkeringat dan dua dengkul lancipnya yang bergetar, serta suaranya yang lemah saat memanggil tukang es cincau yang masuk komplek di jam tidur siang. Saat Marno lahap menikmati es cincau, Umar sudah parkir di IGD klinik paling dekat komplek. Arni lega karena Umar langsung ditangani dan tak ada kepanikan di wajah dokter.

“Kamu tenang saja. Gula darah rendah memang bikin sesak napas. Sebentar lagi, pasien normal kok.”

Lihat selengkapnya