Kiamat Masih Lama

Langlang R
Chapter #20

LELAKI PENGECUT DI DUNIA

LELAKI PENGECUT DI DUNIA

 

Hingga menjelang malam, Arni berdiam menenangkan diri di kamar, Umar di ruang tamu menatap layar ponsel dengan mata kosong, sementara Yuni masih berbincang dengan Kobir yang kini mulai lancang ke rumah. Hanya ada suara kasak-kusuk Marno yang masih sibuk naik turun tangga dapur antara kamar atas dan bawah mewujudkan proses tukar kamar Yuni dan Umar. Marno sesekali mendengus saat kelelahan dan menyebut keluarga itu aneh.

Hampir semua barang-barang Yuni sudah dipindah ke atas. Tersisa lemar-lemar besar yang tak sanggup Marno angkut. Saat dia meraih tas lusuh yang hendak dimasukkan ke dalam kardus, mendadak matanya tertuju pada selembar foto lama yang terjatuh di lantai. Marno menoleh, lalu perlahan berjongkok untuk mengambilnya. Seketika wajahnya tersenyum saat melihat foto tersebut. Yuni muda terlihat sangat cantik mempesona, tubuh proporsional dengan tinggi badannya yang semampai, rambut panjang bergelombang sepunggung, tubuhnya dilapisi blazer putih dan rok hijau setinggi lutut, pesona anggunnya kian memancar lantaran ditopang pernik etnik yang ia pakai.

“Ini Bu Yung muda? Cakep banget ternyata. Pak Umar payah banget. Bini secakep ini, malah diladenin berantem.”

Marno lalu merasakan ada yang ganjil dengan foto itu. Dia merasa kertasnya tebal, namun setelah diperiksa, ternyata foto itu rangkap dua. Lembab dan durasi bertahun-tahun membuat dua lembar foto itu merekat. Marno perhalan melepaspisahkan dua foto tersebut, dan dia kaget saat mendapati foto Yuni sedang berpose mesra di sebuah taman bersama seorang lelaki yang tak lain Herpendi.

“Siapa nih orang? Kayak pernah lihat.”

Belum rampung rasa penasarannya, mendadak Arni muncul. Matanya masih sembab namun dia berusaha memeriksa ruangan. Sambil mengusap air mata, Arni meminta agar Marno lekas menyelesaikan pekerjaannya. Umar butuh istirahat rebahan, dan Yuni sudah jelas semakin tak nyaman dengan Kobir yang tak juga mau beranjak. Arni tahu itu sangat menyiksa Umar karena Ayahnya akan semakin membenci Yuni lantaran kedekatannya dengan Herpendi dan Kobir. Arni tak mau sesak Umar kambuh.

Arni membantu apa yang ia bisa. Marno lalu menunjukkan foto Yuni saat muda, juga saat bersama dengan lelaki yang tak lain adalah Herpendi. Arni tertegun, lalu dia mulai penasaran dengan sisa-sisa kenangan masa lalu Yuni. Arni memeriksa tas-tas lama Yuni. Namun tak ada lagi foto lain, selain kertas-kertas tidak jelas. Hingga kemudian, Arni menemukan sebuah amplop besar warna coklat yang berada di bagian paling bawah laci lemari, tertutup alas koran yang sudah lusuh. Arni seketika mengambil dan perlahan membukanya, seketika Arni terdiam kembali.

“Surat perjanjian?” Arni menerka. “Perjanjian apa ini?”

Baru saja Arni hendak membaca tulisan tangan itu, Yuni keburu muncul. Seketika tangan Arni bergerak cepat ke belakang sehingga amplop itu tak terlihat Yuni.

“Cepet, No. Lama banget, deh.”

“Sabar, Bu Yung. Kan ini naik turun tangga.”

Lihat selengkapnya