SUJUD LELAKI BAYARAN
Yuni menuruni tangga secara perlahan, sembari memastikan Arni telah keluar menemui tamunya. Yuni tidak tenang jika berdiam diri saja di kamar, karena ia berhak tahu apa yang diobrolkan mereka. Satu dua anak tangga berhasil ia lewati dengan tenang, dan satu langkah lagi kakinya akan menapak lantai keramik putih bawaan pengembang. Namun setelah itu, kaki Yuni tidak bergerak lagi karena Umar mendadak muncul dan menghadang pergerakan Yuni. Kembali keduanya saling tatap. Umar dan Yuni telah khatam membaca tindakan masing-masing.
“Apa maksud kamu mendatangkan Dimas?”
“Nggak usah ikut campur.”
“Berapa kamu bayar dia?”
“Nggak usah ikut campur, toh itu uang saya.”
“Arni anak saya.”
“Kamu kira aku siapanya Arni?”
“Ibu macam apa kamu!”
Umar hendak bicara lebih keras, namun dia tidak mau membuat kegaduhan. Mereka diam, namun yang ribut malah Arni dan Dimas di teras rumah. Seketika Yuni melewati Umar, menuju ruang tamu dan berdiri menyimak dari balik tembok. Sementara Umar juga mendekat, namun mengambil jarak beberapa langkah kaki di belakang Yuni.
Di luar, Dimas berdiri di hadapan Arni dengan tatapan mata yang selalu berpindah-pindah. Arni tidak mempersilakan Dimas duduk, namun dia memberi isyarat pada Rehan agar dia pulang, namun Rehan mendekat.
“Dia tadi celingukan depan rumah Kak Arni. Ya udah Rehan samperin aja. Eh, ternyata mau ketemu Kakak.”
“Rehan pulang, ya.”
“Tapi Om ini kayak yang dulu sering sama Kakak?”
“Rehan. Pulang.”
Arni menoleh, dan menggelengkan kepalanya berkali-kali agar Rehan mau segera pulang. Rehan pun akhirnya nurut, dia segera menuju gerbang hijau, diikuti tatapan Dimas yang tetap tak berani mendekat.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Arni. Kita duduk dulu, ya. Kita bicara baik-baik.”